Awan Cumulonimbus Mengancam, BMKG Peringatkan Keselamatan Penerbangan

Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG - mediaharapan.com
Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG - mediaharapan.com

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa awan cumulonimbus yang kemungkinan berlangsung selama sepekan ke depan berpotensi membahayakan penerbangan. Awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum diprediksi akan terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk Jawa Timur, lokasi Bandara Internasional Juanda berada.

Dijelaskan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75% diprediksi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, dan Papua. Sementara, awan cumulonimbus dengan cakupan spasial lebih dari 75% diperkirakan terjadi di Samudera Hindia sisi utara dan Australia Barat.

Untuk itu, BMKG terus mengimbau masyarakat dan semua pihak yang terkait dengan sektor transportasi, agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca signifikan atau potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di puncak musim hujan ini. Ini semua demi mewujudkan keselamatan dalam layanan penerbangan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang menyebabkan terjadinya potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung,” tutur Dwikorita, seperti dikutip dari Times Indonesia. ”Ini terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.”

Pada pekan lalu, dua pesawat dikabarkan terpaksa berputar-putar di udara selama 30 menit sebelum mendarat di Bandara Pattimura, Ambon kemarin gara-gara ada awan cumulonimbus. Saat itu, ada awan cumulonimbus yang terus memanjang hingga pukul 09.00 WIT, membuat pesawat terbang tidak bisa lekas mendarat di Bandara Pattimura.

“Saat pesawat akan take off dan landing, merupakan saat yang krusial apalagi di sekitar aerodrom atau bandara terdapat sel awan cumulonimbus,” jelas Dosen Meteorologi Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Deni Septiadi. “Potensi bahaya pesawat yang memasuki sistem awan tersebut di antaranya adalah adanya turbulensi. Turbulensi dengan kategori ekstrem bahkan mampu menghempaskan pesawat 20-30 m dari posisi awal.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*