Musim Hujan, Ini Langkah Angkasa Pura I Cegah Banjir di Bandara Juanda

Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) - duta.co

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) I terus memantau cuaca ekstrem yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini terhadap kondisi bandar udara, terutama di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Pihak AP I sendiri telah melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah terjadinya dampak dari cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Jatim.

Terlebih AP I juga turut mempertimbangkan kondisi hujan yang terjadi secara terus-menerus pada 1 Januari 2020 berdampak ke Bandara Halim Perdanakusuma terkena banjir. “Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari ini memang menjadi perhatian kami dan sebenarnya sudah diantisipasi sebelumnya,” kata Legal and Communication Section Head PT Angkasa Pura I, Juanda Yuristo, Rabu (8/1), seperti dilansir Liputan6.

Lebih lanjut Yuristo mengungkapkan, beberapa langkah yang dilakukan adalah meningkatkan mitigasi berupa pengecekan, saluran pembuangan air, koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca. AP I pun memastikan keandalan fasilitas terminal, termasuk kelistrikan dan mengoptimalkan fungsi Airport Operation Command Center (AOCC).

Menurutnya, hujan deras dan angin kencang yang terjadi pada Senin (5/1) juga berimbas pada keberangkatan penerbangan yang terlambat alias delay di Bandara Juanda. Keterlambatan penerbangan di Bandara Juanda pun bervariasi, antara 45-60 menit.

Di sisi lain, Jatim pun menerapkan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menurunkan intensitas curah hujan di wilayah Jawa Timur. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Suban Wahyudiono mengungkapkan bahwa penerapan TMC ini lebih pada mengalihkan hujan (memecah konsentrasi awan cumulonimbus), bukan menghilangkan. “Jadi, hujan dengan intensitas 150 mm per detik itu sudah dianggap tinggi. Nah ini sudah mencapai 300 mm per detik (yang terjadi di Jakarta),” kata Suban, Selasa (7/1).

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengintervensi awan cumulonimbus dengan cara menyemai garam khusus menggunakan pesawat udara milik TNI AU supaya awan tersebut beralih ke arah laut. Dengan demikian, intensitas hujan di wilayah penduduk berkurang. Teknik tersebut memungkinkan intensitas hujan rendah, tetapi durasinya lebih lama.

“Kalau di musim kemarau, teknik ini dilakukan untuk menurunkan hujan. Nah di musim penghujan teknik (TMC) ini bertujuan untuk menyebar awan hujan sehingga turun sepanjang hari tapi tidak langsung tinggi,” tandasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*