Sambut HUT RI ke-71, Angkasa Pura I Juanda Gelar Lomba Khas 17-an

Ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-71 bakal berlangsung dua hari lagi. Pihak PT Angkasa Pura I selaku operator Bandara Internasional Juanda pun tak mau ketinggalan menyemarakkan HUT Republik Indonesia tersebut dengan menggelar serangkaian acara dan lomba pada Jumat (12/8) pekan lalu.

Bertempat di depan Gedung AOB (Administration Office Building) Bandara Juanda, segenap karyawan dan karyawati beserta General Manager PT Angkasa Pura I Juanda, Yuwono, mengawali acara tersebut dengan senam bersama pada pagi hari. Dipandu seorang instruktur senam wanita, seluruh karyawan tampak bersemangat berolahraga pada pagi hari itu.
Kemudian, selesai senam bersama, seluruh karyawan mengikuti berbagai macam lomba khas 17-an, seperti lomba makan kerupuk, estafet bola pingpong, joget balon, hingga lomba kelereng. Seluruh karyawan tampak bersemangat ketika mengikuti seluruh rangkaian acara perlombaan tersebut.

Sementara untuk HUT kemerdekaan RI tahun ini, tema yang diusung Pemerintah Indonesia adalah “Indonesia Kerja Nyata”. Hal ini tampak pada logo HUT RI ke-71 yang digambarkan dengan dua setengah lingkaran yang mengilustrasikan bilah baling-baling yang dinamis selalu berputar mendorong pesat ke depan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk kerja nyata dalam memajukan Indonesia.

Lima Hari, Bea Cukai Bandara Juanda Sita 760 Gram Sabu

Dalam kurun waktu lima hari, Custom Narcotics Team Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Juanda berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu dengan berat total 760 gram di Bandara Juanda. Sabu tersebut dirampas petugas dari tiga orang berbeda yang menumpang pesawat dengan rute Kuala Lumpur-Surabaya.

Penangkapan pertama dilakukan terhadap Rubae bin Muktar, penumpang asal Madura berusia 54 tahun pada Sabtu, 23 Juli lalu. Saat itu, Rubae yang menumpang pesawat AirAsia XT 8298 membawa sabu seberat 415 gram yang dibungkus dalam plastik dan disimpan di sebuah koper hitam.
Selang dua hari setelahnya, KPBC Tipe Madya Pabean Juanda kembali berhasil meringkus Noferi Hardyanto, penumpang AirAsia XT 337. Warga Sumber Manjing Wetan, Malang, berusia 31 tahun itu diringkus karena kedapatan membawa sabu seberat 285 gram yang disembunyikan dalam lapisan koper.
Terakhir, pada tanggal 27 Juli, warga Madura lainnya bernama Rudiyanto Mohammad Romli, 39 tahun, berhasil ditangkap ketika membawa sabu 60 gram saat menumpang pesawat AirAsia XT 325. Modus pelaku asal Sampang ini adalah membungkus sabu seperti permen dan memasukkannya ke lubang dubur.

“Ketiga pelaku terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan narcotest dan hasil uji laboratorium di balai pengujian dan identifikasi,” terang Kepala KPPCB Juanda, Muchamad Moelyono. “Semua tersangka akan kami jerat dengan Pasal 113 ayat 1 dan 2 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman 15 tahun penjara atau denda maksimal Rp10 miliar.”

Sukseskan Musim Haji, Pertamina Tambah Pasokan Avtur di Bandara Juanda

Untuk memenuhi kebutuhan penerbangan jamaah haji melalui embarkasi Bandara Juanda, Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V telah menyiapkan tambahan 30 persen pasokan bahan bakar Avtur. Estimasi ini didasarkan pada jumlah pesawat khusus untuk angkutan haji di Bandara Juanda yang diperkirakan bertambah sebanyak dua hingga tiga unit per hari.

Pada hari-hari biasa, Depot Pengisian Bahan Bakar Pesawat Udara (DPPU) Juanda melayani 200 penerbangan tiap hari. Dengan adanya penambahan penerbangan haji sekitar dua hingga tiga pesawat per hari, konsumsi Avtur di DPPU Juanda diprediksi meningkat menjadi 1.200 hingga 1.300 kiloliter per hari.
“Kami menyiapkan tambahan pasokan di atas rata-rata penyaluran normal untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pihak-pihak yang melayani penerbangan jamaah haji,” jelas Area Manager Communication & Relation Pertamina MOR V, Heppy Wulansari. “Ini sebagai wujud komitmen Pertamina untuk memastikan kelancaran dan ketersediaan Avtur selama musim haji 2016.”
Selain di Bandara Juanda, Pertamina MOR V juga menambah pasokan Avtur di Bandara Internasional Lombok. Wilayah kerja Pertamina MOR V sendiri meliputi Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

Penerbangan haji di Bandara Juanda sudah dimulai pada 8 Agustus kemarin hingga 5 September mendatang untuk keberangkatan 64 kloter. Sementara, kedatangan jamaah haji di bandara ini dijadwalkan pada 18 September hingga 15 Oktober 2016.

Kloter Pertama CJH Sumenep Resmi Diberangkatkan dari Bandara Juanda

Kelompok terbang (kloter) pertama calon jamaah haji (CJH) dari Sumenep resmi diberangkatkan ke Tanah Suci Mekah Selasa (9/8) pagi melalui Bandara Juanda. Pemberangkatan 440 orang CJH itu dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, didampingi Kakanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Mahfud Shodar, dan pejabat lainnya tepat pukul 08.00 WIB.
 

Dalam sambutannya, Soekarwo, berpesan agar para CJH menyiapkan fisik, mental, dan sarana untuk mengantisipasi cuaca di Arab Saudi yang saat ini mencapai suhu 50 derajat Celcius. “Bekal alat semprot kepala (spray) juga sudah diberikan untuk membantu CJH mengurangi rasa panas,” katanya.
Di tempat terpisah, Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga menggelar seremoni atau upacara pelepasan 936 orang CJH setempat yang sesuai jadwal akan diberangkatkan pada Rabu (17/8) mendatang melalui Bandara Juanda. Sayangnya, Pemkab Tulungagung belum bisa menutup seluruh biaya akomodasi keberangkatan dan kepulangan para CJH asal Tulungagung.
“Dana APBD yang tersedia Rp595 juta masih belum bisa memenuhi kebutuhan akomodasi seluruh CJH Tulungagung yang berjumlah 936 orang,” kata Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo. “Namun, gotong royong CJH sebesar Rp200.000 per orang diharapkan bisa meringankan kekurangan biaya akomodasi tersebut.”
Senada, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI), Muhammad Fuad Syaiful Anam, juga mengatakan bahwa APBD Tulungangung sejauh ini belum mencukupi kebutuhan biaya akomodasi pemberangkatan dan pemulangan CJH. “Apalagi, selama ini akomodasi pemberangkatan dari Tulungagung ke embarkasi Bandara Juanda merupakan biaya di luar ongkos naik haji (ONH),” ujarnya.

Overlay Bandara Juanda Cuma “Makan Satu Korban”, Kemenhub Evaluasi Lion Air

Perbaikan landasan pacu Bandara Juanda memang mengakibatkan jam operasional di bandara tersebut dibatasi. Meski begitu, hingga detik ini, proyek overlay bandara hanya “memakan satu korban”, yaitu keterlambatan pesawat milik maskapai Lion Air. Untuk itu, Kementerian Perhubungan meminta Lion Air untuk melakukan evaluasi menyeluruh apakah delay ini disebabkan pihak maskapai sendiri atau yang lain.

“Situasi delay itu bisa disebabkan berbagai faktor, baik dari sisi operasional maskapai maupun di luar operator penerbangan,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Hemi Pamuraharjo. “Kami lihat dulu apakah ada penyebab lain, mungkin kontribusi sarana, sistem, sumber daya manusia, atau faktor bandara.”

Delay LionAir di Bandara Juanda [foto:Surabayanews]

Hemi juga tak menampik bahwa penutupan sementara Bandara Juanda karena proyek overlay juga menjadi penyebab pesawat Lion Air delay pada Minggu (31/7) lalu. “Terkait penutupan landasan pacu Bandara Juanda karena adanya perbaikan overlay juga menjadi salah satu penyebab keterlambatan,” sambungnya.

Di sisi lain, pihak Lion Air mengatakan bahwa delay parah yang terjadi tempo hari disebabkan beberapa faktor kumulatif. Faktor-faktor itu yang kemudian menyebabkan pesawat terlambat untuk sampai ke bandara tujuan. “Seperti Bandara Juanda yang sedang overlay sehingga tidak bisa dibuka,” kata Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait.

Namun, Edward tak menampik bahwa masalah delay Lion Air juga karena faktor operasional. Karena itu, pasca-delay, pihak maskapai sudah memecat 14 orang pilot mereka karena diduga menjadi dalang dan menghasut pilot lain agar tidak menerbangkan sejumlah pesawat.

Jam Operasional Bandara Juanda Ditambah hingga Pukul 24.00 WIB

PT Angkasa Pura I akhirnya menambah jadwal operasional Bandara Juanda dari sebelumnya pukul 22.00 WIB menjadi hingga pukul 24.00 WIB. Hal ini sesuai dengan instruksi dari Kementerian Perhubungan akibat keluhan berkurangnya penerbangan malam dari sejumlah maskapai.

“Jadi, memang ada harapan dari teman-teman airlines yang memiliki flight malam, bahwa akibat pembatasan waktu operasi, membuat beberapa penerbangan menjadi berkurang,” jelas Kepala Pusat Informasi dan Komunikasi Publik Kemenhub, Hemi Pamuraharjo. “Namun, keputusan untuk menambah jam operasional Juanda tidak terkait dengan kejadian delay pesawat Lion Air tempo hari.”
Seperti diketahui, dua penerbangan Lion Air menuju Surabaya mengalami keterlambatan parah pada Minggu (31/7) lalu. Salah satu penyebab keterlambatan maskapai itu adalah pengurangan jam operasional Bandara Juanda imbas perbaikan landasan pacu bandara tersebut.
Terpisah, General Manager Bandara Juanda, Yuwono, juga membenarkan bahwa perbaikan landasan pacu Bandara Juanda kini dilakukan sejak pukul 24.00 hingga pukul 05.00 WIB. “Sebelumnya, dari pukul 22.00 hingga pukul 05.00 WIB,” ujarnya.

“Perubahan jadwal tersebut setelah adanya revisi Notice to Airman (Notam) terkait Work in Progress (WIP) perbaikan landasan pacu,” sambung Yuwono. “Tetapi, pembatasan jadwal tersebut tidak berlaku bagi penerbangan haji dan evakuasi medis helikopter.”

Lion Air Stop Sementara Penerbangan Malam ke Bandara Juanda

Maskapai Lion Air memutuskan untuk menyetop sementara penerbangan malam ke Bandara Juanda. Hal ini berkenaan dengan kejadian delay parah yang dialami maskapai penerbangan tersebut pada Minggu (31/7) lalu karena adanya perbaikan landasan pacu Bandara Juanda.

“Setelah kejadian delay tempo hari, kami memutuskan menyetop sementara penerbangan malam ke Surabaya,” jelas Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait. “Namun, kalau jam operasional Bandara Juanda dibuka lagi hingga pukul 24.00 WIB, kami juga akan beroperasi lagi.”
Sebelumnya, pihak Lion Air mendapat panggilan Kementerian Perhubungan seiring keterlambatan lima penerbangan, dua di antaranya menuju Surabaya, pada Minggu lalu. Salah satu penyebab keterlambatan pesawat tersebut adalah perbaikan landasan pacu Bandara Juanda.
Terkait insiden itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, sudah meminta pihak PT Angkasa Pura I untuk menambah jam operasional Bandara Juanda. “Menhub telah memberikan instruksi kepada Angkasa Pura I untuk menambah jam operasional bandara dari awalnya hingga pukul 22.00 WIB menjadi pukul 24.00 WIB,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Hemi Pamuraharjo.

Untuk kemungkinan faktor lain, Kementerian Perhubungan masih akan mengevaluasi Lion Air. Sebab dalam kasus ini, hanya maskapai penerbangan tersebut yang mengalami delay akibat perbaikan landasan pacu Bandara Juanda.

Perbaiki Landasan, Bandara Juanda Tutup Penerbangan Malam

Surabaya – Pada Senin (1/8) siang terjadi penumpukan ratusan penumpang di terminal keberangkatan domestik 1 dan 2 Bandara Internasional Juanda Sidoarjo, Surabaya. Ratusan penumpang memadati ruang tunggu bandara karena terjadi penundaan (delay) jadwal oleh beberapa maskapai penerbangan.

Penerbangan terpaksa ditunda dikarenakan adanya perbaikan runway atau landasan pacu Bandara Juanda. Oleh sebab itu semua penerbangan malam hari dialihkan ke penerbangan pagi sampai sore hari.
Pengalihan jadwal itulah yang mengakibatkan penerbangan pagi sampai sore hari jadi semakin padat dan ada sebagian jadwal penerbangan yang tertunda.
Penundaan jam keberangkatan pesawat terjadi untuk jurusan Surabaya-Jakarta dan Surabaya-Denpasar.
“Hampir seluruh penerbangan menuju Jakarta maupun Denpasar mengalami delay 1 jam dari jadwal keberangkatan, ini kita juga lagi nunggu,” ujar salah seorang penumpang bernama Joshua.
Karena perbaikan landasan pacu dilaksanakan di atas pukul 22.00 – 05.00 WIB, PT Angkasa Pura I Surabaya pun memutuskan akan menutup penerbangan malam di Bandara Juanda sementara mulai 18 Juli sampai 18 Oktober yang akan datang. Meski begitu, PT AP I tetap bakal menyesuaikan jadwal untuk penerbangan jemaah haji dalam 3 bulan ke depan.
Legal and Communication Head PT Angkasa Pura (AP) I Juanda Liza Anindya mengungkapkan pihaknya akan melakukan penjadwalan ulang untuk menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan jemaah haji dari Indonesia. “Kami belum tahu jadwal penerbangan untuk embarkasi Surabaya,” ujarnya.

Perbaikan landasan pacu di Bandara Juanda sendiri membutuhkan waktu selama 23 bulan. Panjang runway yang akan diperbaiki adalah 3.000 meter dan dikerjakan tiap dini hari. Tadinya perbaikan direncanakan dimulai bulan Mei, tetapi kemudian mundur sampai awal Juli karena kurangnya persiapan.

Satgas Pora Resmi Dibentuk untuk Awasi WNA di Bandara Juanda

Surabaya – Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham) Ronny Sompie akhirnya meresmikan Sekretariat Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Orang Asing (Pora) Udara di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pada Rabu (27/7) lalu. Satgas Pora yang ditugaskan di kawasan Bandara Juanda tersebut berasal dari petugas Kantor Imigrasi Kelas I Surabaya, BIN Provinsi Jatim, Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Otoritas Bandara Juanda, Angkasa Pura I, Kantor Bea Cukai, Karantina Kesehatan, dan POM AL.

“Maka di Jatim kini sudah lengkap, selain pengawasan darat, laut, kini sudah terbentuk satgas di Bandar Udara Juanda,” ujar Ronny Sompie dalam peresmian Satgas Pora di Graha Satu Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jatim.
Pasca pemerintah memberlakukan bebas visa untuk para wisatawan mancanegara (wisman) dari 169 negara sejak tahun 2015 lalu sesuai dengan Perpres No 21/2016, kunjungan wisatawan asing ke Tanah Air pun meningkat. Pihak imigrasi pun bertekat untuk  melakukan pengawasan ketat atas keberadaan turis asing di Indonesia.
Ronny menjelaskan pembentukan Satgas Pora ini berdasar UU Imigrasi. Tak hanya di Bandara Juanda, di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) juga telah ada Satgas Pora untuk mengawasi para wisman yang melakukan penerbangan di sana. Meski demikian, Ronny menambahkan, disiagakannya satgas khusus di Juanda dan Soetta bukan berarti di lokasi tersebut rawan terjadi pelanggaran.
“Ini dibentuk dalam rangka mencegah. Kita mencanangkan bebas visa sejak 2015 yang saat ini untuk 169 negara. Bebas visa dimaksudkan agar negara mendapat benefit yang besar maka kita (Imigrasi) harus bisa memastikan keamanan perlintasan di bandara, pelabuhan, stasiun kereta api, bahkan terminal,” ungkap Ronny.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya Zaeroji menuturkan Satgas Pora Bandara Juanda bertugas untuk mengawasi keimigrasian penumpang asing di area bandara, melakukan kroscek informasi seputar penumpang asing dengan sejumlah instansi terkait, dan memberi masukan seputar temuan kasus yang terjadi.
Terhitung sejak Januari hingga Juli 2016 saja sudah ada 18 orang WNA di Surabaya yang dipulangkan (deportasi) lantaran menyalahgunakan izin tinggal. Sementara itu ada juga pengadilan pidana yang melibatkan 2 warga negara asing.

Kakanwil Kemkumham Jatim Budi Sulaksana mengungkapkan, rata-rata ada 17 penerbangan internasional dengan 4.000 orang yang masuk dan keluar lewat Bandara Juanda tiap harinya. “Jatim memiliki 38 kota yang masing-masing kanim memiliki Satgas Pora ditambah di Bandara Juanda. Di Jatim sepanjang 2016 ini terdapat 2.951 tenaga kerja asing terbesar datang dari Tiongkok, Jepang dan Korea, maka pengawasan menjadi penting,” tandas Budi.

Penerapan Bebas Visa, Kunjungan WNA via Bandara Juanda Makin Meningkat

Kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang melalui Bandara Juanda semakin meningkat. Ini berasal dari asumsi Bandara Juanda rata-rata per hari mengoperasikan 17 penerbangan internasional dengan jumlah 4.000 penumpang yang masuk dan keluar dari dan ke wilayah Indonesia.

“Kunjungan wisatawan asing ke Indonesia melalui Bandara Juanda memang makin meningkat melihat pengoperasian 17 penerbangan internasional di bandara tersebut setiap harinya,” terang Kakanwil Kemenkumham Jatim, Budi Sulaksana. “Peningkatan kunjungan ini seiring diberlakukannya Perpres No. 21/2016 mengenai penetapan bebas visa kunjungan bagi 169 negara sejak 2015 lalu.”

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan mengenai warga negara asing, Rabu (27/7) kemarin, Kemenkumham melalui Direktorat Jenderal Imigrasi telah meresmikan Satuan Tugas Pengawasan Orang Asing (Satgas Pora) di Bandara Juanda. Satgas Pora ini melibatkan sejumlah unsur instansi militer maupun sipil, termasuk PT Angkasa Pura I selaku operator bandara dan juga TNI AL.

“Ini merupakan upaya dari Kemenkumham untuk bisa menekan tindak kriminalitas ataupun jenis pelanggaran lainnya yang dilakukan warga negara asing di Indonesia,” terang Dirjen Kementerian Hukum dan HAM, Ronnie Sompie. “Pembentukan Satgas Pora ini juga sebagai wujud keseriusan untuk melakukan upaya pencegahan agar WNA tidak melakukan pelanggaran selama tinggal di Indonesia.”