Bandara Juanda Buka Terminal Umrah untuk Jemaah Haji

Hari ini, para jemaah haji yang datang melalui Bandara Juanda akan disambut oleh pemandangan baru. Bandara Internasional yang bertempat di Sidoarjo ini telah menyiapkan terminal umrah khusus untuk menyambut kedatangan para jemaah haji di pintu 11 dan 12.

Liza Anindya selaku Kepala Humas PT Angkasa Pura 1 Bandara Juanda mengatakan bahwa terminal umrah yang telah disiapkan ini berada di Terminal 1. “Para jamaah haji yang akan datang ini berasal dari kelompok terbang pertama dari Surabaya dan sebagian dari daerah lain di Jawa Timur,” ujarnya, pagi ini (29/9).

Demi memberi kenyamanan ekstra pada para jemaah haji yang datang, lokasi terminal umrah ini sengaja tidak dicampur dengan penumpang lainnya. “Sehingga, pelayanan yang diberikan kepada para jamaah haji bisa berjalan dengan maksimal,” ungkap Liza.

Bandara Juanda, diakui oleh Liza, juga sudah dilengkapi dengan alat pendeteksi panas dan suhu tubuh untuk memantau suhu tubuh para jamaah haji. “Sesuai dengan standar kedatangan, penumpang dari luar negeri akan melewati jalur yang sudah disediakan oleh petugas di bandara tersebut,” imbuhnya.

Masih dari penuturan Liza, diketahui bahwa para jemaah haji yang pulang dari Jeddah selanjutnya akan difasilitasi menggunakan bus untuk menuju ke Asrama Haji Sukolilo. “Para jamaah yang ada di dalam kloter 1 tersebut rencananya akan datang sekitar pukul 09.30 WIB, dan kloter berikutnya akan datang pukul 11.30 pada hari yang sama,” pungkasnya.

Monitor Pemantau Suhu dan Cuaca Hadir di Bandara Juanda

Bandara Juanda telah menyediakan fasilitas monitor pemantau suhu dan cuaca. Segala informasi tentang suhu udara, cuaca, hingga munculnya kabut asap akan terpampang pada sebuah monitor berukuran besar. Secara berkala, monitor akan menunjukkan status dan kondisi cuaca. Kalaupun ada perubahan, data yang tergambar di monitor juga akan ikut berubah.

Monitor ini telah dipasang di Terminal keberangkatan khusus untuk penerbangan milik maskapai Garuda Indonesia dan rute Internasional. Destinasi penerbangan internasional dan domestik seperti Singapura, Malaysia, Bangkok, Hongkong, serta beberapa kota di Indonesia bakal terpampang di layar monitor tersebut.

Customer Service di lobby Bandara Juanda

“Kami jadi terbantukan dan merasa dipandu dengan monitor itu. Minimal sudah tahu untuk siap-siap dengan cuaca dingin atau panas di Kuala Lumpur,” kata Viki, salah seorang calon penumpang pesawat tujuan Kuala Lumpur yang ditemui di Terminal 2 Bandara Juanda, kemarin (27/9).

Penumpang lainnya, yakni Riko yang berencana untuk terbang ke Malaysia bersama keempat rekannya, mengaku terbantu dengan adanya layar monitor berisikan informasi cuaca tersebut. Para penumpang lainnya juga berharap agar nantinya kondisi cuaca dan kecepatan angin bisa di-share.

Sayangnya, penempatan monitor dirasa kurang tepat alias salah lokasi. Masih menurut Riko, monitor tersebut idealnya dipasang di pintu masuk keberangkatan. “Namun penempatan monitor ini menjadi kurang termanfaatkan dengan baik karena salah lokasi. Ada baiknya ditempatkan tepat pas pintu masuk keberangkatan. Bukan di sisi kanan saat penumpang tergesa-gesa menunggu giliran diperiksa petugas,” ujarnya.

Bandara Juanda akan Segera Pasang Autogate

Sehubungan dengan serbuan masuknya WNA ke Indonesia melalui Bandara Juanda, Bandara Internasional di Surabaya ini dinyatakan belum menerapkan sistem gerbang otomatis alias autogate guna pemeriksaan dokumen paspor milik penumpang.

“Kami (Bandara Juanda) memang masih ketinggalan. Sebenarnya perangkat sudah ada dan tinggal memasang,” ujar Rakha Sukma Purnama selaku Plt Kepala Bidang Pendaratan Izin Masuk (Darinsuk) Kanim Kelas I Khusus Surabaya, Minggu (20/9). “Kami sudah mendapat surat dari Imigrasi Pusat untuk menerapkan autogate ini. Mudah-mudahan bulan depan langsung bisa diterapkan. Sudah kita rancang layout dan tata letak autogate itu,” tambahnya.

Autogate sendiri merupakan alat pemeriksaan dokumen keimigrasian yang terintegrasi dengan sistem komputer. Perangkat digital ini dirancang untuk merekam data perlintasan di tempat pemeriksaan Imigrasi. Nantinya, Paspor milik penumpang akan terdeteksi secara otomatis di pintu pengamanan ini. Data pemegang paspor akan tercatat dalam database secara realtime dan terhubung langsung ke pusat data keimigrasian. Dengan begitu, waktu yang dibutuhkan untuk proses pemeriksaan akan terpangkas dari yang semula butuh 15 menit menjadi cukup 1,5 menit saja per orang.

“Konsekuensinya, (penerapan autogate) memang akan membatasi jumlah petugas sehingga tak menumpuk di pintu pemeriksaan lagi. Cukup satu petugas,” perjelas Rakha.

Untuk saat ini, Bandara Juanda telah mencatat ada 106.091 WNA yang masuk hingga bulan September ini. Warga Negara Asing yang masuk dari Bandara Juanda tersebut didominasi oleh Warga Negara Tiongkok dan untuk tujuan travelling.

“Kami memprediksi jumlah WNA yang datang ke Surabaya melalui Juanda tahun ini akan meningkat. Ini lantaran WNA nanti bebas urus visa karena diterapkannya MEA,” pungkasnya.

Alamat bandara Juanda Surabaya

Bandara Juanda (IATA: SUB, ICAO: WARR) merupakan sebuah bandar udara kelas internasional yang berlokasi di kabupaten Sidoarjo, tepatnya di kecamatan Sedati, sekitar 20 km di sebelah Selatan kota Surabaya. Bandara ini beroperasi di bawah kendali PT Angkasa Pura 1 dan menjadi salah satu bandara tersibuk di Indonesia. Bandara Juanda melayani penerbangan penumpang yang berasal dari kota Surabaya dan kota-kota lain di sekitarnya.

Berikut Alamat dan Kontak Bandara Juanda yang bisa dihubungi :

Bandar Udara Internasional Juanda (SUB)
Jl. Raya Ir. Juanda No.1, Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur 61253
Telp. +62 31 – 2986 200 / 2986 300 / 8667 506 / 867 8745
Fax. 031 – 8667506
Website : http://www.juanda-airport.com/

Bandara Juanda dilihat dari udara

Bandara Juanda kini menempati posisi sebagai Bandara terbesar ke-2 di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta (CGK) di Jakarta. Bandara ini memiliki landasan sepanjang 3000 meter dengan terminal seluas 51.500 m². Luas terminal ini berkembang menjadi 2 kali lipat dari yang semula hanya seluas 28.088 m². Dalam setahun, Bandara Juanda diperkirakan mampu menampung hingga 8 juta penumpang dan 120.000 ton Kargo.

Nama Bandara Juanda diambil dari nama Wakil perdana Menteri terakhir Indonesia, Ir. Djuanda Kartawidjaja, yang dulunya menyarankan pembangunan bandara ini.

Rencana pembangunan pangkalan udara ini sebenarnya sudah digagas sejak berdirinya Biro Penerbangan Angkatan Laut RI pada tahun 1956. Meski begitu, pembangunannya baru terealisasi setelah muncul agenda politik untuk perjuangan pembebasan Irian Barat. Demi memfasilitasi operasi TNI dalam pembebasan Irian Barat, pemerintah barulah menyetujui pembangunan lapangan udara di area kecamatan Sedati ini. Sebelumnya ada 3 lokasi yang menjadi bidikan pembangunan bandara, yakni di Gresik, Bangil, dan Sidoarjo (Sedati) ini. Area Sedati ini dipilih karena letaknya dekat dengan Surabaya, selain itu kontur tanahnya datar dan luas memungkinkan untuk dibangun sebuah pangkalan udara yang bisa diperluas lebih ekstensif nantinya.

Proyek pembangunan Bandara Juanda itu selanjutnya disebut “Proyek Waru”. Proyek ini menjadi proyek pembangunan lapangan terbang pertama paska kemerdekaan Indonesia.

Proyek ini awalnya ditujukan untuk menggantikan landasan udara di Morokrembangan dekat Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan peninggalan Belanda. Penggantian fungsi bandara ini dikarenakan lokasi landasan udara tersebut sudah terhimpit oleh area pemukiman warga dan sulit untuk dikembangkan.

Proyek ini melibatkan 3 pihak utama, yakni Tim Pengawas Proyek Waru (TPPW) sebagai wakil pemerintah, Compagnie d’Ingenieurs et Techniciens (CITE) sebagai konsultan (asal Perancis), dan Societe de Construction des Batinolles (Batignolles) sebagai kontraktor (asal Perancis). Pembangunan pangkalan udara dengan landasan pacu yang tergolong besar ini (Panjang : 3000 m, Lebar : 45 m) membutuhkan pembebasan lahan seluas 2400 hektar, yang terdiri dari areal sawah dan rawa.

Penginapan dan Hotel Dekat Juanda Surabaya

Sebagai salah satu kota metropolitan Indonesia dan ibukota provinsi Jawa Timur, kota Surabaya tak pernah sepi dari aktifitas kedatangan para pelancong. Kota pahlawan yang kini telah berganti wajah menjadi kota asri dan bersih ini juga memiliki beberapa obyek wisata menarik yang membuat wisatawan lokal dan mancanegara  tertarik untuk singgah sejenak.

High Point Serviced Apartment Surabaya

Bandara Juanda yang menjadi gerbang utama kota Surabaya via jalur udara juga selalu ramai setiap harinya. Para wisatawan maupun pebisnis domestik dan Internasional senantiasa terlihat berlalu lalang di bandara ini setiap waktu. Untuk sekedar beristirahat sejenak di sekitar Bandara, Anda juga tak perlu pusing-pusing mencari penginapan yang letaknya jauh. Beberapa penginapan sudah tersedia di sekitar lokasi Bandara Juanda dengan tarif yang cukup bervariasi.
Berikut ini adalah daftar dari beberapa hotel yang berada dekat dengan Bandara Juanda di Surabaya.
Nama Hotel
Alamat
Jumlah Kamar
Tarif (mulai)
Halogen Hotel
Bintang 3
Jl. Raya By Pass Juanda No. 18, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
91 kamar
Rp 320 ribuan
Hotel Utami
Bintang 3
Jl. Raya Juanda Selatan, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
137 kamar
Rp 330 ribuan
Hotel Sinar 2
Bintang 1
Jl. Raya Pabean 30, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
61 kamar
Rp 310 ribuan
Hotel Sinar 1
Bintang 3
Jl. Raya Insinyur Djuanda 36, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
150 kamar
Rp 310 ribuan
Global Inn Hotel
Bintang 1
Jl. Bandara Juanda 22 Surabaya, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
40 kamar
Rp 210 ribuan
Hotel Sinar 3
Bintang 1
Jl. Insinyur Haji Djuanda 81, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
30 kamar
Rp 310 ribuan
Hotel Tilamas
Bintang 2
Jl. Raya Juanda No. 88, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
42 kamar
Rp 330 ribuan
High Point Serviced Apartment Surabaya
Bintang 3
Jl. Siwalankerto No. 161-165 Surabaya, Jawa Timur
49 kamar
Rp 270 ribuan
Hotel Utami
Bintang 3
Jl. Raya Juanda Selatan, Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur
137 kamar
Rp 310 ribuan
Hotel Santika Jemursari Surabaya
bintang 3
Jl. Jemursari No. 258, Surabaya, Jawa Timur
105 kamar
Rp 480 ribuan
Da Rifi Hotel
Bintang 1
Jl. Duku II CA 190, Pondok Candra Indah, Juanda Surabaya, Jawa Timur
7 kamar
Rp 140 ribuan
Rotterdam Homestay
Bintang 2
Jl. Nginden Intan Barat No C1-47, Nginden, Surabaya, Jawa Timur
10 kamar
Rp 120 ribuan
Walan Syariah Hotel
Bintang 2
Jl. Raya Sedati Agung nomor 1 Betro, Juanda, Surabaya, Jawa Timur
Rp 260 ribuan

Diminta Bersaing dengan Pihak Swasta, Pertamina Ancam Tutup Penjualan Avtur di Bandara Kecil

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan kabarnya tengah mempertimbangkan agar perusahaan swasta bisa berjualan Avtur di bandara-bandara Indonesia. Langkah ini diambil menyusul keputusan PT Pertamina yang tak bersedia untuk menurunkan harga avturnya.

Ahmad Bambang selaku Direktur Pemasaran Pertamina menanggapi kabar ini dengan tenang. “Nggak apa-apa, silahkan saja. Tapi yang jadi pertanyaan Pertamina, boleh nggak Pertamina juga menutup pelayanan avtur di bandara-bandara kecil, yang sebenarnya Pertamina rugi jualan di sana?” ujarnya dalam suatu wawancara dengan awak media, kemarin (12/9).

Menurut bambang, pihak swasta sepertinya hanya akan mengincar bandara besar saja, sekelas Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Ngurah Rai Bali karena dinilai lebih menguntungkan. “Lihat Shell dan Total, lihat saja. Terbuktikan mereka hanya masuk di kota-kota besar, sedangkan Pertamina wajib melayani daerah-daerah lain hingga ke pelosok daerah meski rugi. Bahkan SPBU AKR yang jual solar subsidi saja sekarang tutup, karena harga solar subsidi buat mereka rugi (lebih rendah dari harga beli),” ujarnya.

Pesawat Lion Air sedang diisi avtur dari tanki Pertamina

Selama ini, keuntungan yang didapat oleh Pertamina dari penjualan avtur di bandara-bandara besar digunakan untuk menutup kerugian di bandara-bandara kecil. “Pertamina melakukan subsidi silang, artinya, kerugian jual avtur di bandara-bandara kecil seperti Mamuju, Silangit, Nias, Pinang Soeri, (serta) daerah-daerah remote seperti Tual, Saumlaki, Larantukan, Luwuk, Labuhan Bajo (Komodo), Tanjung Pinang dan banyak lagi bandara kecil, dikompensasi oleh keuntungan dari bandara-bandara besar,” perjelas Bambang.

Untuk itu, Bambang mewakili Pertamina meminta waktu pada pemerintah untuk menyesuaikan harga avturnya. “Kasih kami kesempatan untuk berusaha melakukan segala daya agar harga (avtur) bisa turun, baik melalui efisiensi di segala bidang serta menurunkan margin menjadi sekitar 5% saja, dan tolong diberikan solusi untuk bandara-bandara terpencil tersebut,” tukasnya.