Angkasa Pura I Gandeng Incheon Ikut Lelang Pengelolaan Bandara Hang Nadim

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) I bekerja sama dengan Incheon International Airport Corporation (IIAC) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk untuk ikut seleksi pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam lewat mekanisme kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). AP I sendiri mengaku yakin bakal memenangkan lelang tersebut.

“Kalau yang ini kita confident (percaya diri) karena punya strategi yang cukup bagus dan kita bawa Incheon karena reputasinya internasional,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi di Jakarta, Selasa (14/1), seperti dilansir Antara. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatangan perjanjian konsorsium oleh Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, Presiden & CEO IIAC Koo Bon Hwan, dan Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana di Jakarta.

Faik menjelaskan jika ini adalah salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan bisnis serta menegaskan komitmen AP I dalam memperluas jaringan pengelolaan bandara di Indonesia. “Kami optimistis mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam dengan menggandeng Incheon dan Wijaya Karya sebagai mitra strategis, mengingat kemampuan dan pengalaman global di sektor kebandarudaraan dan konstruksi bandar udara yang konsorsium ini miliki,” ujar Faik.

Faik menambahkan, salah satu terobosan yang bakal dilakukan AP I adalah menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai hub untuk mengembangkan destinasi penerbangan yang lebih luas. Terlebih karena Bandara Hang Nadim berada di posisi yang strategis antara Malaysia dan Singapura. “Yang jelas jadi hub, artinya kita akan menjadikan pusat ke pengembangan ke destinasi lebih luas. Ini dikumpulkan di Batam, ke berbagai wilayah di Indonesia untuk penerbangan penumpang dan kargo,” tuturnya.

Sementara itu, untuk kargo nantinya AP I masih akan mengembangkan potensi ke depan dengan melakukan kajian lebih mendalam. “Nanti dilihat perlu ada studi lebih lanjut. Kita pelajari potensinya seperti apa, kita kembangkan dengan seberapa kapasitasnya itu setelah prosesnya selesai diteken kalau menang,” ujar Faik.

AP I pun kini sedang dalam proses untuk mengelola sejumlah bandara lain yang masih dikelola Kementerian Perhubungan seperti Bandara APT Pranoto Samarinda, Bandara Sentani Jayapura, Bandara Juwata Tarakan, serta Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk.

Low Season, Harga Tiket Pesawat Lion Air Batam-Surabaya Rp840 Ribuan

Batam – Harga tiket pesawat Lion Air dari Batam ke sejumlah destinasi selama sepekan terakhir ini dilaporkan mengalami penurunan. Hal ini dikonfirmasi langsung Distrik Manager Lion Air Batam, M Zaini Bire pada Kamis (9/1).

“Dibandingkan beberapa waktu lalu, harga tiket saat ini lebih murah,” ujar Bire, Selasa (7/1), seperti dilansir Batampos. Lebih lanjut Bire mengungkapkan, penurunan harga tiket pesawat tersebut belum termasuk kategori low season, tetapi memang telah mengalami penurunan harga yang cukup dapat dijangkau oleh masyarakat yang hendak melakukan perjalanan udara.

Bire berpendapat jika harga tiket pesawat kini sudah relatif lebih murah jika dibandingkan ketika libur Natal dan Tahun Baru beberapa waktu lalu. “Sudah lama kita tidak memasang low season. Kami memang turunkan harganya. Dan ini merupakan salah satu cara memancing minat masyarakat untuk terbang bersama Lion Air,” tutur Bire.

Lebih lanjut Bire menambahkan, harga tiket low season Lion Air ini kemungkinan akan kembali normal menjelang libur Imlek pada tanggal 25 Januari 2020 mendatang. Menurut penelusuran di sejumlah aplikasi pemesanan tiket online, harga tiket pesawat dari Bandara Hang Nadim Batam ke berbagai rute memang terpantau turun.

Misalnya saja tiket pesawat dari Batam ke Jakarta kini dibanderol pada kisaran Rp600 ribuan, rute Batam ke Padang Rp496 ribuan, Batam ke Medan tarif tiketnya Rp696 ribuan, Batam ke Pontianak Rp683 ribuan, Batam ke Pekanbaru pada kisaran Rp377 ribuan, dan Batam ke Bandara Juanda Surabaya dipatok harga Rp840 ribuan.

Senada, Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim, Suwarso menuturkan jika harga tiket pesawat akan kembali tinggi menjelang Imlek, tetapi tidak untuk semua rute penerbangan. “Kami harap tetap rendah lah, supaya dapat meningkatkan animo masyarakat,” beber Suwarso.

Harga tiket pesawat yang relatif terjangkau ini rupanya dimanfaatkan oleh beberapa warga Batam untuk berlibur, misalnya saja warga Sei Panas, Ilham Yude Pratama. “Awalnya mau berangkat saat tahun baru. Tapi harganya mahal banget, makanya setelah tahun baru cek harga tiket lagi. Eh, tahunya harganya murah-murah. Semoga dapat murah terus, kan bisa jalan-jalan,” ujarnya.

Low Season, Benarkah Harga Tiket Pesawat Sudah Turun?

JAKARTA/SURABAYA – Maskapai penerbangan dikabarkan sudah menurunkan harga tiket pesawat terbang setelah peak season libur Natal dan Tahun Baru kemarin. Melalui penelusuran di beberapa situs booking online, harga tiket pesawat untuk sejumlah rute favorit, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Yogyakarta, dan Jakarta-Bali memang sudah turun hampir dua kali lipat pada masa low season ini.

Dalam salah satu biro perjalanan online (online travel agent), harga tiket pesawat Lion Air rute Jakarta-Surabaya kini mulai Rp455.000, dari semula Rp840.000. Kemudian, tiket pesawat rute Jakarta-Yogyakarta dari Rp629.900 menjadi Rp396.700, sedangkan tiket pesawat rute Jakarta-Bali sekarang dijual mulai Rp759.700 dari semulia Rp1.407.600.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita), Budijanto Ardiansjah, sebenarnya harga tiket pesawat rute domestik masih tinggi. Kalaupun dianggap penurunan, itu hanya peralihan dari high season menuju low season. “Penurunan tarif merupakan bentuk harga promo yang diberikan maskapai untuk beberapa kelas penerbangan,” kata Budi.

“Itu trik promosi saja karena low season. Tentunya kalau benar-benar turun secara permanen adalah hal yang baik, tapi sepertinya kita masih harus melihat beberapa bulan ke depan semoga airlines itu konsisten,” sambung Budi. “Sistem harga tiket pesawat saat ini berbeda. Sebelumnya memiliki disparitas tarif batas bawah dan batas atas.”

Sementara itu, pengamat penerbangan, Gatot Raharjo, menilai bahwa penurunan tiket pesawat terbang yang dilakukan Lion Air agaknya sulit dilakukan atau diikuti oleh maskapai lain, terutama Garuda Indonesia. Pasalnya, maskapai pelat merah tersebut baru saja merasakan keuntungan dengan harga tiket yang normal. 

“Namun, Citilink mengikuti kebijakan Garuda, jadi bisa saja dia dikorbankan untuk bersaing dengan Lion Air,” papar Gatot. “Sementara, Sriwijaya Air, diprediksi tidak akan mengambil keputusan untuk menurunkan harga tiket pesawat. Kalau Sriwijaya, saat ini produksinya dipangkas habis. Kalau maskapai juga pasang harga rendah, bisa rugi.”

Sebelum Surabaya, Citilink Terbang ke Jeddah via Bandara Kertajati

MAJALENGKA/SURABAYA – Anak usaha Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, baru saja mengumumkan akan membuka penerbangan umrah Surabaya-Jeddah dari Bandara Internasional Juanda. Namun, sebelum rute tersebut meluncur, ternyata maskapai sudah resmi mengoperasikan rute ke Bandara Internasional King Abdul Aziz via Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati.

Penerbangan rute Kertajati-Jeddah ini resmi beroperasi pada Rabu (8/1) lalu. Pesawat bertolak dari Bandara Internasional Jawa Barat menggunakan pesawat Airbus A320 NEO dengan nomor penerbangan QG 530 pada pukul 10.00 WIB dan tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz pada pukul 19.00 waktu setempat. Maskapai menjadwalkan rute Kertajati-Jeddah untuk kembali beroperasi pada tanggal 15 Januari mendatang.

“Penerbangan ini diwujudkan sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap program pemerintah Republik Indonesia yang telah menetapkan Bandara Kertajati, sebagai bandara embarkasi/debarkasi haji tahun 2020 untuk jamaah asal provinsi Jawa Barat,” ujar Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra. “Terima kasih kepada para pihak terkait yang telah mendukung Citilink Indonesia dalam melaksanakan penerbangan rute Kertajati-Jeddah ini, kami berharap akan semakin banyak segmen jamaah umrah yang dapat terakomodasi.”

Sebelumnya, pada tanggal 6 Januari lalu, maskapai mengumumkan akan membuka rute penerbangan langsung Surabaya-Jeddah. Penerbangan dari Bandara Internasional Juanda ini menurut rencana beroperasi mulai tanggal 26 Januari 2020 mendatang, dengan frekuensi sebanyak tiga kali seminggu, menggunakan pesawat Airbus A330-900 NEO.

“Penerbangan ini untuk menarik pasar menengah ke bawah, karena paket tarif yang disediakan khusus. Beda dengan Garuda Indonesia yang menyasar pasar menengah ke atas,” papar Senior Manager Carter dan Internasional Flight Citilink, Muhammad Agung Hartono. “Untuk layanan ini, kami akan menggunakan pesawat baru Airbus A330 -900 NEO dengan jadwal penerbangan tiga kali seminggu, yakni pada hari Selasa, Kamis dan Minggu, pukul 16.00 WIB.”

Lewat layanan ini, perusahaan yang juga merupakan anak usaha Garuda Indonesia, yaitu Garuda Indonesia Holidays dan Aerohajj, akan bertindak sebagai agen travel dan memberikan layanan umrah murah dengan harga mulai Rp19 juta. Rute direct Surabaya-Jeddah juga diharapkan bisa jadi alternatif pilihan untuk warga yang hendak beribadah umroh dari Surabaya.

Konsumsi Avtur di Bandara Juanda & Banyuwangi Meningkat Selama Libur Nataru

Surabaya – Selama masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2019/2020 beberapa waktu lalu, konsumsi bahan bakar pesawat, avtur di 2 bandara yang berada di kawasan Jawa Timur, yaitu Bandara Internasional Juanda Sidoarjo dan Bandara Blimbingsari Banyuwangi dilaporkan mengalami kenaikan dibandingkan hari-hari biasa.

Menurut Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, di Bandara Juanda konsumsi avtur naik sebesar 12%, sementara itu di Bandara Blimbingsari Banyuwangi konsumsi avtur juga meningkat sebesar 10,5%. “Di Juanda, konsumsi selama masa Satgas kemarin sebesar 1090 KL/hari dari rata-rata normal 970 KL/hari, sementara di Blimbingsari Banyuwangi meningkat menjadi 8KL/hari dari rata-rata normal 7 KL/hari,” ujar Rustam di Surabaya, Rabu (8/1), seperti dilansir Antara.

Sedangkan di bandar udara lain yang masih berada di kawasan Jatim, seperti Bandara Abdulrachman Saleh Malang dan Bandara Iswahyudi Madiun justru mengalami penurunan, masing-masing sebanyak 0,5% dan 13%. Rustam menambahkan, secara umum Pertamina MOR V yang membawahi wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara mencatatkan kenaikan konsumsi avtur rata-rata sebesar 5% selama periode Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Adapun untuk kenaikan tertinggi ada di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Tambolaka sebesar 84,7% dari rata-rata normal harian atau sebanyak 7 KL per hari dari rata-rata normal 4 KL per hari. “Penjualan avtur tertinggi terjadi pada tanggal 26 Desember 2019, atau puncaknya yang mencapai 4.236 KL/hari atau meningkat 16,8 persen dari rata-rata normal harian sebesar 3.650 KL/hari,” bebernya.

Sedangkan di wilayah Bali dan Lombok juga meningkat sebesar 1,5% di Bandara Ngurah Rai Bali dan 4,2% di Bandara Internasional Lombok. “Puncak tertinggi dari penjualan di kedua bandara itu masing-masing tanggal 27 dan 28 Desember 2019, dimana Ngurah Rai terjadi peningkatan konsumsi avtur sebesar 15 persen dari rata-rata normal atau 2757 KL/hari dan 29 persen dari rata-rata normal atau 84 KL/hari di Bandara Internasional Lombok,” paparnya.

Meningkatnya konsumsi avtur ini diduga karena datangnya turis lokal dan mancanegara selama libur Nataru. “Untuk wilayah NTT khususnya di Bandara El Tari Kupang, Tambolaka dan Komodo terdapat peningkatan yang cukup signifikan, yakni 46,6 persen, 84,7 persen, dan 13,5 persen,” ungkap Rustam.

Pada puncaknya, konsumsi avtur di Bandara El Tari Kupang sebanyak 112% dari rata-rata normal, yakni pada 20 Desember 2019. Kemudian Bandara Tambolaka mencapai 174% dari rata-rata normal pada 29 Desember 2019, dan 103% di Bandara Komodo pada 22 Desember 2019.

Musim Hujan, Ini Langkah Angkasa Pura I Cegah Banjir di Bandara Juanda

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) I terus memantau cuaca ekstrem yang terjadi selama beberapa hari belakangan ini terhadap kondisi bandar udara, terutama di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Pihak AP I sendiri telah melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah terjadinya dampak dari cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Jatim.

Terlebih AP I juga turut mempertimbangkan kondisi hujan yang terjadi secara terus-menerus pada 1 Januari 2020 berdampak ke Bandara Halim Perdanakusuma terkena banjir. “Cuaca ekstrem yang terjadi beberapa hari ini memang menjadi perhatian kami dan sebenarnya sudah diantisipasi sebelumnya,” kata Legal and Communication Section Head PT Angkasa Pura I, Juanda Yuristo, Rabu (8/1), seperti dilansir Liputan6.

Lebih lanjut Yuristo mengungkapkan, beberapa langkah yang dilakukan adalah meningkatkan mitigasi berupa pengecekan, saluran pembuangan air, koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait prakiraan cuaca. AP I pun memastikan keandalan fasilitas terminal, termasuk kelistrikan dan mengoptimalkan fungsi Airport Operation Command Center (AOCC).

Menurutnya, hujan deras dan angin kencang yang terjadi pada Senin (5/1) juga berimbas pada keberangkatan penerbangan yang terlambat alias delay di Bandara Juanda. Keterlambatan penerbangan di Bandara Juanda pun bervariasi, antara 45-60 menit.

Di sisi lain, Jatim pun menerapkan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menurunkan intensitas curah hujan di wilayah Jawa Timur. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Suban Wahyudiono mengungkapkan bahwa penerapan TMC ini lebih pada mengalihkan hujan (memecah konsentrasi awan cumulonimbus), bukan menghilangkan. “Jadi, hujan dengan intensitas 150 mm per detik itu sudah dianggap tinggi. Nah ini sudah mencapai 300 mm per detik (yang terjadi di Jakarta),” kata Suban, Selasa (7/1).

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengintervensi awan cumulonimbus dengan cara menyemai garam khusus menggunakan pesawat udara milik TNI AU supaya awan tersebut beralih ke arah laut. Dengan demikian, intensitas hujan di wilayah penduduk berkurang. Teknik tersebut memungkinkan intensitas hujan rendah, tetapi durasinya lebih lama.

“Kalau di musim kemarau, teknik ini dilakukan untuk menurunkan hujan. Nah di musim penghujan teknik (TMC) ini bertujuan untuk menyebar awan hujan sehingga turun sepanjang hari tapi tidak langsung tinggi,” tandasnya.

Bandara Juanda Angkut 966 Ribu Penumpang Sepanjang Libur Nataru

Sidoarjo – Selama berlangsungnya masa angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Bandara Internasional Juanda Surabaya mencatat telah melayani sejumlah 966 ribu penumpang, baik rute domestik dan luar negeri.

Pts General Manager Bandara Internasional Juanda Surabaya Trubus Suharsono mengungkapkan bahwa pergerakan arus penumpang tersebut berdasarkan data yang diperoleh di Posko Nataru selama 19 hari, baik di Terminal 1 (T1) dan Terminal 2 (T2) Bandara Juanda.

“Selama periode posko yang berlangsung sejak 19 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020 tersebut, Bandar Udara Internasional Juanda melayani sejumlah 966.394 penumpang atau turun 7 persen dari 2018 yang mencapai 1.033.658 penumpang,” kata Trubus di Sidoarjo, Selasa (7/1), seperti dilansir Antara.

Lebih lanjut Trubus memaparkan, untuk pergerakan pesawat pun turun 6% jadi 7.330 movement dari tahun lalu sebesar 7.802 pergerakan pesawat. “Sedangkan untuk jumlah kargo sebesar 4.032.079 kilogram atau turun 33 persen dari tahun 2018 sebesar 5.990.729 kilogram,” ungkapnya.

Penurunan jumlah penumpang dan pergerakan pesawat tersebut rupanya adalah tren nasional yang tidak hanya terjadi di Bandara Juanda, tetapi juga di mayoritas bandara Indonesia. “Domestik memang terjadi penurunan, tapi untuk jumlah penumpang dan kargo internasional mengalami kenaikan. Untuk jumlah penumpang internasional mengalami kenaikan sebesar 4% atau sebanyak 141.860 dari tahun 2018 sebanyak 136.174 penumpang, dan jumlah kargo 10% atau sebesar 1.277.062 kg dari tahun 2018 sebesar 1.161.596 kg. Kenaikan ini dipengaruhi oleh cukup panjang libur natal yang bersamaan dengan periode libur sekolah pada tahun 2019,” ucapnya.

Sementara itu, puncak pergerakan pesawat atau kepadatan penumpang dan kargo pada libur Nataru terjadi tanggal 20 Desember 2019 sebanyak 63.305 penumpang dengan 415 penerbangan. “Domestik memang terjadi penurunan, tapi untuk jumlah penumpang dan kargo internasional mengalami kenaikan. Untuk jumlah penumpang internasional mengalami kenaikan sebesar 4% atau sebanyak 141.860 dari tahun 2018 sebanyak 136.174 penumpang, dan jumlah kargo 10% atau sebesar 1.277.062 Kg dari tahun 2018 sebesar 1.161.596 Kg. Kenaikan ini dipengaruhi oleh cukup panjang libur natal yang bersamaan dengan periode libur sekolah pada tahun 2019,” ujarnya.

Pihak PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Juanda pun turut mengucapkan terima kasih terhadap dukungan seluruh pihak terkait yang telah mendukung kelancaran angkutan Nataru. “Utamanya dalam menjaga aspek keselamatan juga keamanan penerbangan sesuai dengan program 3S + 1C (Safety, Security, Services dan Compliance), sehingga kami dapat mempertahankan kinerja operasional bandara dengan catatan zero accident,” tutupnya.

Citilink Buka Direct Flight Rute Surabaya-Jeddah via Bandara Juanda

Surabaya – Maskapai Citilink Indonesia belum lama ini membuka rute penerbangan langsung (direct flight) Surabaya-Jeddah. Penerbangan tersebut akan dilayani oleh anak perusahaan Garuda Indonesia ini mulai tanggal 26 Januari 2020 mendatang. Citilink menerbangi rute Surabaya-Jeddah melalui Bandara Internasional Juanda Sidoarjo, Jawa Timur dengan frekuensi sebanyak 3 kali seminggu.

“Penerbangan ini untuk menarik pasar menengah ke bawah, karena paket tarif yang disediakan khusus. Beda dengan Garuda Indonesia yang menyasar pasar menengah ke atas. Untuk layanan ini kami akan menggunakan pesawat baru Airbus A330 – 900 NEO dengan jadwal penerbangan tiga kali seminggu yakni pada hari Selasa, Kamis dan Minggu, pukul 16.00 WIB,” ucap Senior Manager Carter dan Internasional Flight Citilink, Muhammad Agung Hartono di Surabaya, Senin (6/1), seperti dilansir Kompas.

Lebih lanjut Agung menjelaskan bahwa penerbangan langsung Surabaya-Jeddah baru pertama kali dibuka oleh Citilink di Surabaya. Pesawat Airbus A330 – 900 NEO yang digunakan Citilink mempunyai kapasitas total 365 penumpang yang terdiri dari 42 kursi kelas Premium Economy, 42 kursi kelas Comfort Economy, dan 229 seat kelas Economy.

Lewat layanan ini, perusahaan yang juga merupakan anak usaha Garuda Indonesia, yaitu Garuda Indonesia Holidays dan Aerohajj akan bertindak sebagai agen travel dan memberikan layanan umrah murah dengan harga mulai Rp19 juta. Rute direct Surabaya-Jeddah juga diharapkan bisa jadi alternatif pilihan untuk warga yang hendak beribadah umroh dari Surabaya.

“Surabaya merupakan kota terbesar setelah Jakarta dan tentunya masyarakat yang menjalankan ibadah umroh ke Tanah Suci terbilang banyak. Apalagi catatan kami dapat, per tahun jamaah umroh dari Bandara Juanda Surabaya mencapai 300.000-an penumpang. Kami menargetkan layanan kami bisa memberangkatkan 100.000-an jemaah di sepanjang tahun 2020 ini,” jelas Agung.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jatim , Emil Elestianto Dardak menuturkan jika pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat melalui fasilitas kemudahan beribadah. “Kita juga ingin buka peluang bagi masyarakat untuk bisa berangkat dengan biaya yang lebih terjangkau. Kami optimis, ini pesawat wide body, artinya tidak lagi transit, langsung dan tentunya di situlah biaya bisa dibuat lebih kompetitif, daya tampungnya banyak,” pungkasnya.

Cuaca Buruk Landa Jatim, 20 Penerbangan di Bandara Juanda Delay

Sidoarjo – Selama beberapa hari terakhir, terdapat sekitar 20 penerbangan di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jawa Timur yang mengalami delay atau penundaan jam keberangkatan karena kondisi cuaca yang buruk. Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri memperkirakan cuaca ekstrem ini akan berlangsung sampai sepekan ke depan, terutama pada siang sampai malam hari.

Keterlambatan penerbangan tersebut terjadi setiap hari di waktu yang berbeda, khususnya siang dan malam hari. “Ada 20 penerbangan yang mengalami penundaan penerbangan,” ujar Senior Manager Airport Operation and Services Bandara Juanda, Trubus Suharsono, Selasa (7/1), seperti dilansir Sindonews.

Adapun durasi penundaan jam terbang berkisar antara 35-45 menit, tergantung dari kondisi cuaca di sekitar Bandara Juanda. Sehubungan dengan kondisi tersebut, PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Juanda selaku pengelola bandar udara menyerahkan kebijakan penundaan penerbangan terhadap pihak maskapai masing-masing yang mengetahui kondisi penerbangan ketika cuaca sedang buruk.

Karena penundaan jadwal terbang tersebut, ratusan calon penumpang terlihat menumpuk di ruang tunggu Bandara Juanda. AP I Cabang Juanda pun berjanji akan menambah ruang tunggu untuk menampung sejumlah calon penumpang pesawat yang terdampak penerbangan delay akibat cuaca buruk tersebut.

BMKG Juanda sendiri sebelumnya telah memperkirakan potensi cuaca ekstrem dengan curah hujan intensitas lebat di Jawa Timur akan berlangsung sampai tanggal 10 Januari 2020 mendatang. Hujan lebat itu terjadi diiringi kilat, petir, dan angin kencang.

Bambang menjelaskan, ada pola tekanan rendah di Samudera Hindia selatan di Nusa Tenggara, yang mengakibatkan terbentuknya pola pertemuan angin atau konvergensi di sepanjang wilayah Jawa Timur. “Dari analisa MJO menguatkan indikasi suplai uap air meningkat. Kemudian, saat ini di Jawa Timur juga sudah mendekati puncak musim hujan,” jelas Kepala BMKG Juanda Surabaya, Bambang Hargiyono, Senin (6/1).

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, beberapa wilayah di Jatim yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem antara lain Bangkalan, Bondowoso, Banyuwangi, Jember, Jombang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo. Selain itu, Kota Batu, Blitar, Kediri, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo. Lalu Lamongan, Lumajang, Magetan, Pacitan, Pamekasan, Pulau Bawean, Sidoarjo, Situbondo, Sumenep, Surabaya, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung juga diprediksi mengalami hal yang sama.

Januari-November 2019, Kunjungan Wisman ke Jatim via Bandara Juanda Anjlok

SURABAYA – Tidak hanya jumlah penumpang domestik yang mengalami penurunan. Kunjungan wisatawan asing ke Provinsi Jawa Timur melalui pintu masuk Bandara Internasional Juanda sepanjang bulan November 2019 pun harus turun 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Bahkan, sepanjang Januari sampai November 2019, jumlah turis mancanegara yang datang ke Jatim anjlok 22,54 persen daripada periode yang sama tahun 2018.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, pada periode Januari hingga November 2019, jumlah wisatawan luar negeri yang datang ke Jawa Timur via Bandara Juanda tercatat sebanyak 222.659 kunjungan. Angka ini menurun dibandingkan periode Januari hingga November 2018 yang mencatatkan 293.290 kunjungan.

“Khusus untuk tingkat kunjungan wisman selama November 2019, tercatat mencapai 21.135 kunjungan atau turun 0,08 persen dibandingkan Oktober 2019 yang mencapai 21.152 kunjungan,” papar Kepala Bidang Distribusi Statistik BPS Jatim, Satrio Wibowo. “Bahkan, jika dibandingkan November 2018 yang mencapai 29.992 kunjungan, angkanya malah anjlok 29,47 persen.”

Mengenai penyebab turunnya tingkat kunjungan wisatawan ke Jawa Timur ini, Satrio mengatakan belum ada survei apa pun terkait penyebab pasti penurunan tersebut. Namun, ia memperkirakan faktor pemilu bisa menjadi penyebab sementara angka kunjungan wisatawan asing turun. “Hal ini mungkin membuat wisatawan dari luar negeri berpikir untuk menunda dulu datang ke Indonesia,” ujar Satrio.

Meski demikian, industri pariwisata Jawa Timur masih terus berkembang dan tren pertumbuhannya akan tetap positif sepanjang tahun 2020. Ketua Dewan Tata Krama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jatim, Nanik Sutaningtyas, mengatakan bahwa wisata alam adalah komoditas utama industri pariwisata Jatim. Artinya, menjual wisata alam jauh lebih mudah. 

“Kami rasa tahun depan (2020) akan lebih meningkat karena banyak pengembangan desa wisata di Jatim yang menjadi daya tarik tersendiri,” kata Nanik. “Namun, industri ini punya banyak kendala, terutama harga tiket pesawat. Pemerintah harus bisa segera merumuskan kebijakan terkait dengan harga tiket pesawat itu. Mengingat, bandara menjadi gerbang utama arus kedatangan wisman.”