Juanda Habiskan 100 Liter Disinfektan Tiap Hari untuk Sterilisasi Bandara

Sidoarjo – Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur semakin memperketat pencegahan virus corona di lingkungan bandar udara, terutama di area Terminal 2 (T2) penerbangan internasional. Saat ini pemeriksaan suhu tubuh bukan hanya dilakukan untuk kedatangan penumpang, tetapi juga di bagian keberangkatan.

Para petugas bandara pun rutin melakukan sterilisasi. Tiap harinya dibutuhkan sekitar 100 liter disinfektan untuk disemprotkan di dalam area bandara. Peningkatan langkah preventif ini dilakukan sejak pekan lalu. Suhu badan seluruh penumpang pun dicek, terutama yang ada di Terminal 2. Penumpang yang bersuhu tubuh tinggi akan diperiksa oleh tim kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya.

Menurut Communication and Legal Manager Bandara Internasional Juanda Yuristo Ardhi menyebutkan, langkah itu diambil usai adanya laporan warga negara Indonesia yang positif corona. Langkah serupa juga diberlakukan di Terminal 1 (T1). “Ini langkah kami sebagai cara membuat nyaman para penumpang,” ungkap Yuristo, seperti dikutip dari Jawapos.

Sejumlah titik di bandara yang dianggap rawan pun disemprot sebagai langkah untuk sterilisasi area Bandara Juanda. Dalam proses sterilisasi, petugas melakukannya sekali dalam sehari, tepatnya sebelum bandara beroperasi. Tiap harinya petugas dibagi jadi 2 kelompok untuk sterilisasi Terminal 1 dan 2. Bahkan dalam setiap penyemprotan setidaknya membutuhkan 100 liter disinfektan.

Yuristo menambahkan, trafik penerbangan di Bandara Juanda sejak wabah virus corona memang mengalami penurunan, baik pada penerbangan domestik dan internasional. Pada periode Januari-Februari 2020 jumlah penumpang yang dilayani Bandara Juanda adalah 2.656.354 pax. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2019 lalu jumlahnya mencapai 2.667.635 pax atau turun 0,42%.

“Di 2019 juga mengalami penurunan dibanding 2018. Total di tahun 2019 lalu Bandara Juanda melayani 16,6 juta penumpang atau turun 10% dibanding tahun 2018 yang melayani 20,9 juta penumpang,” ungkap Yuristo.

Walaupun jumlah penumpang Bandara Juanda menurun, pihaknya masih belum menghitung berapa besar kerugian yang dialami oleh PT Angkasa Pura I. Saat ini pihaknya lebih fokus melakukan berbagai upaya pencegahan penyebaran virus corona bersama sejumlah stakeholder.

Angkasa Pura I Juga Berlakukan Social Distancing di 15 Bandara

Jakarta – Tak hanya PT Angkasa Pura II, saat ini PT Angkasa Pura (AP) I juga sudah menerapkan jarak sosial atau social distancing di area pelayanan publik yang terdapat di 15 bandara pengelolaannya, termasuk di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Konsep social distancing yang diterapkan adalah dengan mengatur jarak minimal 1 meter antar penumpang di area pelayanan publik dengan menempelkan stiker panduan jarak.

“Upaya ini merupakan upaya lanjutan Angkasa Pura I dalam menerapkan konsep social distancing di area pelayanan publik untuk meminimalisir potensi penularan COVID-19 di area publik,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi di Jakarta, Rabu (18/3), seperti dilansir Antara.

Program tersebut dilaksanakan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo melalui pidatonya terkait penanganan penyebaran dan dampak virus corona pada Minggu (15/3), Surat Edaran Menteri BUMN terkait penanggulangan penyebaran Covid-19, dan Surat Edaran Direktur Utama Nomor: ED. 15 /KP.10.43.2020/DU tentang Kesiapsiagaan dan Pencegahan Corona Virus Disease (COVID-19) di Lingkungan PT Angkasa Pura I (Persero).

Stiker panduan jarak aman 1 meter ini ditempelkan di area pemeriksaan ketika masuk ke area check in, tiap security check poin, antrean masuk lift. Selain itu juga ditempelkan di tempat pemeriksaan boarding pass, antrean di fix bridge dan garbarata, antrean pengambilan bagasi, dan antrean taksi. Setiap lift yang ada di bandara pun diberi label stiker maksimal kapasitas dengan posisi hadap penumpang.

Jarak duduk antar penumpang di area boarding lounge juga ikut diatur dengan posisi kursi yang menghadap ke satu arah dan tiap orang tidak diperkenankan duduk bersebelahan, melainkan tiap satu kursi dikosongkan. Hal ini telah dilakukan dengan pemberian label stiker petunjuk atau panduan.

“Kami imbau penumpang dan calon penumpang bandara agar dapat disiplin mengikuti imbauan ini agar dapat meminimalisir potensi penularan Virus Corona dan menjaga kenyamanan publik di tengah kondisi pandemi seperti ini,” ungkap Faik.

AP I menerapkan social distancing di 15 bandar udara pengelolaannya, yakni Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Bandara Frans Kaisiepo Biak, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Bandara Internasional Lombok Praya, Bandara Pattimura Ambon, Bandara El Tari Kupang, dan Bandara Sentani Jayapura.

Angkasa Pura I Terapkan Work From Home untuk Lindungi Karyawan

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) mulai menerapkan sistem kerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Langkah ini diambil untuk melindungi kesehatan para karyawan dan mencegah penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk seluruh karyawan di Kantor Pusat Jakarta, 15 kantor cabang bandara untuk pegawai administrasi, dan karyawan 5 anak perusahaan mulai 17 Maret 2020 sampai pemberitahuan lebih lanjut.

“Upaya ini merupakan komitmen kami untuk melindungi dan memprioritaskan kesehatan dan keamanan seluruh Insan Angkasa Pura I dari ancaman penularan COVID-19 serta melaksanakan himbauan dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menerapkan konsep social distancing,” kata Faik, Selasa (17/3), seperti dilansir Kumparan.

Untuk mendukung sistem kerja dari rumah ini, PT AP I dibekali platform kerja digital melalui Office Collaboration Platform (OCP) yang berperan penting untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas kerja pada era digital. AP I pun mempunyai SAP (System Application and Processing) yang mampu memonitor administrasi, bisnis, dan keuangan perusahaan.

“Selain itu kami juga telah memiliki aplikasi Tata Naskah Dinas Elektronik (TNDE) hingga seluruh Insan Angkasa Pura I dapat bekerja dari rumah pada situasi seperti saat ini,” jelas Faik. Mekanisme kerja dari rumah dilaksanakan secara bergantian di antara 2 kelompok kerja. Kebijakan WFH secara penuh tanpa bergantian diberikan pada pegawai yang usianya di atas 50 tahun.

“Secara umum seluruh insan Angkasa Pura I yang bekerja WFH telah diberikan fasilitas yang memungkinkan untuk bekerja secara remote dengan nyaman, efisien dan tidak mengurangi produktivitas seperti bekerja di kantor,” tutur Faik.

AP I hingga kini telah mengelola 15 bandar udara di Indonesia, meliputi Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Bandara Frans Kaisiepo Biak, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adisutjipto Yogyakarta, Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Bandara Internasional Lombok Praya, Bandara Pattimura Ambon, Bandara El Tari Kupang, dan Bandara Sentani Jayapura.

Selain itu, AP I juga memiliki 5 anak perusahaan, yakni PT Angkasa Pura Logistik, PT Angkasa Pura Properti, PT Angkasa Pura Suport, PT Angkasa Pura Hotel, dan PT Angkasa Pura Retail.

Wings Air Tetap Layani Rute Yogyakarta-Surabaya PP via Bandara Adisutjipto

YOGYAKARTA – Ketika dua saudaranya, Lion Air dan Batik Air, memutuskan untuk pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) Kulonprogo, Wings Air ternyata tetap melayani penerbangan domestik di Bandara Internasional Adisutjipto. Dengan demikian, maskapai ini masih mengoperasikan penerbangan reguler ke Bandung dan Surabaya melalui pelabuhan udara di kawasan Mguwoharjo tersebut. 

“Saat ini, rute reguler dari Bandara Adisutjipto adalah menuju Bandung via Bandara Husein Sastranegara dan Surabaya via Bandara Internasional Juanda,” papar Corporate Communications Strategic Wings Air, Danang M. Prihantoro, dilansir Bisnis. “Masing-masing melayani penerbangan sebanyak tiga dan enam kali per hari, sehingga total 18 frekuensi penerbangan pulang pergi.”

Untuk melayani kedua rute tersebut, Wings Air beroperasi menggunakan pesawat jenis baling-baling. Total, ada 64 pesawat terbang yang terdiri dari 19 unit pesawat ATR 72-500 dan 45 unit pesawat ATR 72-600. Perusahaan optimistis, pengoperasian pesawat tersebut bisa menggugah minat traveling. Wings Air akan menambah pengalaman terbang setiap wisatawan dengan sensasi tersendiri menggunakan pesawat turboprop tipe ATR 72-500 atau ATR 72-600.

“Jadwal penerbangan yang ditawarkan Wings Air melalui Yogyakarta Adisutjipto tetap memberikan nilai tambah bagi pebisnis, wisatawan, dan masyarakat di Jogja,” imbuh Danang. “Mereka mempunyai kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dengan koneksi penerbangan (connecting flight) melalui bandara di Surabaya dan Bandung menuju kota-kota berikutnya.”

Melalui Bandara Juanda misalnya, bersama Lion Air Group, dapat terbang ke Ambon, Balikpapan, Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Denpasar, Jakarta, Kendari, Kertajati, Kupang, Makassar, Manado, Mataram, Lombok, Padang, Palangkaraya, Palembang, Palu, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Tarakan, Banyuwangi, Jember, Labuan Bajo, Pangkalan Bun, Sampit, Semarang, Sumbawa Besar, hingga Sumenep.

Sebelumnya, pada awal Maret 2020, Lion Air dan Batik Air sebagai maskapai penerbangan dari Lion Air Group mengumumkan pemindahan layanan penerbangan dari Bandara Internasional Adisutjipto ke Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) Kulonprogo. Perpindahan jaringan penerbangan domestik dari dan menuju Yogyakarta Kulonprogo (YIA) akan efektif mulai Minggu, tanggal 29 Maret 2020.

Hadang Virus Corona, Bandara Juanda Diharapkan Punya Thermal Gun

SURABAYA – Seperti diberitakan sebelumnya, PT Angkasa Pura I sudah menambah alat thermo scanner di pintu kedatangan domestik Bandara Internasional Juanda sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona. Namun, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menginginkan adanya alat thermal gun di area bandara, termasuk di terminal keberangkatan.

“Saat ini, beberapa layanan publik saja yang baru memiliki thermal gun, di antaranya di pelabuhan, stasiun, dan terminal. Bahkan, di bandara, alat tersebut belum ada, yang terpasang hanyalah body thermal scanner,” ujar Khofifah, dilansir Liputan6. “Kita koordinasikan di pemberangkatan di airport (ada thermal gun). Dulu di kedatangan, saat ini keberangkatan juga harus dipastikan terdeteksi.”

Khofifah mengakui, jumlah thermal gun di wilayah Jawa Timur memang masih minim. Meski demikian, pihaknya sudah mengambil langkah memesan kembali alat tersebut. Jika sesuai jadwal, pada tanggal 25 Maret mendatang, alat tersebut akan tiba. Jumlahnya memungkinkan untuk fungsi deteksi di terminal, stasiun, dan bandara.

Hingga detik ini, Khofifah memang belum menerapkan status lockdown di Jawa Timur terkait kewaspadaan penyebaran virus corona. Khofifah juga memutuskan, semua tempat wisata, pusat perbelanjaan, dan pasar tradisional di Jatim tetap dibuka. Namun, pihak pengelola diminta meningkatkan kewaspadaan, seperti menyediakan antiseptik, tempat cuci tangan, hingga masker.

Sebelumnya, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas 1 Surabaya sudah memperketat pengawasan penumpang di pintu kedatangan domestik Bandara Juanda. Pengetatan pemeriksaan suhu tubuh penumpang domestik tersebut dilakukan lantaran jumlah WNI yang dilaporkan positif corona saat ini meningkat. Pengawasan ini pun bertujuan menciptakan Jawa Timur sehat dan terbebas dari virus mematikan yang menyerang pernapasan tersebut.

Sementara itu, dalam pengetatan pengawasan penumpang domestik ini, pihak PT Angkasa Pura I cabang Bandara Juanda juga akan menambah alat thermo scanner gun atau alat thermo scanner tembak. Alat tersebut kabarnya akan dioperasikan oleh petugas Aviation Security (Avsec) di terminal kedatangan Bandara Internasional Juanda.

Ratusan WNA Telah Ditolak Masuk Indonesia untuk Cegah Penyebaran Corona

Sidoarjo – Belum lama ini 5 warga negara asing (WNA) ditolak masuk saat tiba di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jawa Timur. Namun penolakan kelima WNA tersebut kabarnya bukan karena dinyatakan terjangkit virus corona atau Covid-19.

“Hari ini tidak ada yang ditolak masuk di Bandara Juanda. Kalau beberapa hari yang lalu memang ada, namun bukan karena terjangkit COVID-19,” ujar Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas 1 Surabaya Muhammad Budi Hidayat, Kamis (12/3) malam.

Budi menambahkan, beberapa WNA yang sebelumnya ditolak masuk Bandara Juanda berasal dari China, Korea Selatan, Italia, dan Iran. “Mereka tiba dengan satu pesawat, dan bukan karena terjangkit COVID-19, melainkan karena ketidaksesuaian sistem keimigrasian, hal ini sesuai Surat Edaran Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Jadi bukan karena terjangkit virus corona. Mereka ditolak masuk sistem keimigrasian,” ungkap Budi.

Hingga 10 Maret 2020 setidaknya terdapat 126 WNA yang ditolak masuk ke Indonesia sebagai salah satu langkah Dirjen Kemenkumham untuk mencegah masuknya virus corona. “Totalnya yang kami tolak 126 orang. Ini dari 6 Februari 2020 sampai 10 Maret 2020. Itu rekapan penolakan WNA di tempat pemeriksaan imigrasi,” ungkap Plt Dirjen Imigrasi Kemenkuham Jhoni Ginting di Jakarta, Kamis (12/3).

Lebih lanjut Jhoni menambahkan, 126 WNA yang ditolak berasal dari sejumlah negara dan mempunyai riwayat perjalanan dari China, Iran, Italia dan Korea Selatan. Ratusan WNA yang ditolak itu ada di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali,  Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng, Bandara Internasional Kualanamu Medan, Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, dan Pelabuhan Center Batam.

“Di Ngurah Rai ada 89, di Soekarno Hatta total 22 orang, Kualanamu 7 orang, Bandara Juanda 5 orang, Bandara Hang Nadim 1 dan Pelabuhan 2 orang,” paparnya. Dengan ditolaknya ratusan WNA itu diharapkan bisa menekan jumlah penyebaran kasus virus corona di Tanah Air.

Antisipasi Corona, Bandara Juanda Tambah Thermo Scanner di Terminal Domestik

Sidoarjo – Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus corona, pihak Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jawa Timur memperketat pengawasan penumpang di pintu kedatangan domestik, Terminal 1. Pengawasan suhu penumpang domestik ini dilakukan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas 1 Surabaya sejak Selasa (10/3) lalu.

Menurut Dokter Pengawas KKP Kelas 1 Surabaya Bandara Juanda Gesta Robby, pengawasan penumpang domestik dilakukan dengan memakai alat thermo scanner di terminal kedatangan guna mencegah dan mengantisipasi masuknya virus corona. “Pengetatan sebelumnya sudah dilakukan di Terminal 2,” kata Gesta, seperti dikutip Jawapos.

Pengetatan suhu tubuh penumpang domestik tersebut dilakukan lantaran jumlah WNI yang dilaporkan positif corona saat ini meningkat. Pengawasan ini pun bertujuan menciptakan Jawa Timur sehat dan terbebas dari virus mematikan yang menyerang pernapasan tersebut. “Sebelumnya alat itu (thermo scanner, Red) belum diaktifkan, setelah dilakukan koordinasi beberapa pihak saat ini waktu yang tepat,” beber Gesta.

Apabila biasanya penumpang domestik yang datang di terminal kedatangan Bandara Juanda dapat bebas masuk ke terminal kedatangan, maka kini pihak KKP Surabaya mulai memberi sekat berupa garis kuning karantina kesehatan. “Kita antisipasi virus Corona masuk ke Jawa Timur, kita periksa penumpang Internasional maupun Domestik yang datang di Bandara Juanda,” ungkap Gesta.

Berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan, ada 3 penumpang dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celsius. Menurut pengakuan penumpang, semuanya hanya terserang flu biasa. Atas temuan itu, KKP Kelas 1 Surabaya pun hanya memberi kartu kewaspadaan kesehatan. “Untuk kemudian dipantau di daerah tujuan,” tutur Gesta.

Dalam pengetatan pengawasan penumpang domestik ini, pihak PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Juanda juga akan menambah alat thermo scanner gun atau alat thermo scanner tembak. Alat tersebut kabarnya akan dioperasikan oleh petugas Aviation Security (Avsec) di terminal kedatangan Bandara Internasional Juanda.

“Dalam Minggu ini kita akan tambah belasan alat thermo scanner tembak, baik di terminal 1 maupun Terminal 2 Bandara Juanda yang akan dioperasikan oleh petugas Aviation Security Bandara Juanda,” kata Didik Suryanto, Co GM PT Angkasa Pura 1 Surabaya.

Trans Nusa Bakal Buka Rute Penerbangan Baru Balikpapan-Kotabaru-Surabaya

Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotabaru, Kalimantan Selatan dengan maskapai Trans Nusa bekerja sama untuk membuka rute penerbangan baru yang menghubungkan Balikpapan-Kotabaru-Surabaya via Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.

“Kami baru saja bertemu dengan owner Trans Nusa untuk membahas rencana pembukaan rute baru dari Balikpapan-Kotabaru-Surabaya,” ujar Bupati Kotabaru H Sayed Jafar, Rabu (12/3), seperti dilansir Antara.

Akan tetapi, Sayed mengungkapkan bahwa kerja sama itu masih dalam proses, apakah nantinya akan memakai badan hukum milik pemerintah daerah seperti badan usaha milik daerah (BUMD) untuk meng-cover kerja sama dengan Trans Nusa. Pemkab Kotabaru dengan sejumlah perusahaan di Kotabaru pun rencananya akan membantu untuk pembukaan awal. “Untuk pembukaan awal ini ada kerja sama dengan BUMD kita, agar pihak maskapai tidak mengalami kerugian saat membuka rute baru ini,” tuturnya.

Sayangnya, Sayed masih belum bisa memastikan kapan rute tersebut akan mulai beroperasi. Ia hanya berharap Trans Nusa bisa segera melayani penerbangan di Kotabaru. “Dengan adanya rute baru ini, masyarakat maupun wisatawan akan banyak pilihan untuk ke Kotabaru, baik melalui Makasar, Banjarmasin, Balikpapan dan juga Surabaya,” ujar Sayed.

Lebih lanjut Sayed menuturkan, apabila rute penerbangan Balikpapan-Kotabaru-Surabaya sudah beroperasi dan berkembang, maskapai Trans Nusa pun akan membuka pelayanan khusus untuk kargo. Pelayanan kargo jalur udara dari Trans Nusa tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengirim hasil perkebunan, perikanan, dan kerajinan-kerajinan khas Kotabaru. Dengan adanya pelayanan kargo Trans Nusa tersebut diharapkan pengiriman barang-barang dari Kotabaru tidak memakan waktu lama lagi.

“Kita tidak mau lagi pengalaman seperti maskapai sebelumnya yang mengalami kerugian setelah membuka rute baru, makanya kita bergabung semua untuk bekerja sama antara pihak penyedia pesawat dengan pelaku duduk bersama-sama agar bisa lebih lancar,” ungkapnya.

Dengan dibukanya rute penerbangan Balikpapan-Kotabaru-Surabaya oleh maskapai Trans Nusa, diharapkan bisa ikut memajukan sektor pariwisata serta perekonomian di wilayah Kotabaru dan kota-kota lain yang disinggahi.

Hore, Kini Tersedia Angkutan Khusus dari Mojokerto ke Bandara Juanda!

Mojokerto – Ada kabar gembira untuk masyarakat yang bermukim di Mojokerto dan sekitarnya yang hendak bepergian ke Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Pasalnya, kini hadir moda transportasi umum bus Damri yang melayani perjalanan dari Mojokerto menuju Bandara Juanda Surabaya.

Sesuai dengan usulan Pemerintah Kota Mojokerto kepada Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur yang menunjuk DAMRI (Jawatan Angkutan Motor Republik Indonesia) telah mempersiapkan trayek angkutan umum khusus dari Mojokerto (Terminal Kertajaya) tujuan Bandara Juanda.

Para penumpang dapat menggunakan angkutan Pemadu Moda tujuan Mojokerto (Terminal Kertajaya)-Bandara Juanda langsung via jalan tol. Adapun tarif angkutan khusus yang dilayani Damri ini relatif terjangkau, hanya Rp55.000 per orang untuk sekali perjalanan. Harga tiket angkutan Pemadu Moda itu dinilai sebanding dengan pelayanan perjalanan ekstra cepat melewati jalan Tol Penompo-Exit Tol Bandara Juanda.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengaku sangat mengapresiasi langkah nyata instansi terkait seperti Dishub Provinsi Jatim, Damri, dan PT Angkasa Pura (AP) I. “Mudah-mudahan kedepannya angkutan Pemadu Moda bisa bermanfaat khususnya masyarakat kita dan mendukung program disektor pariwisata untuk menunjang perekonomian,” kata Ika, seperti dilansir Tribunnews.

Titik pemberangkatan angkutan Pemadu Moda itu nantinya berada di Terminal Kertajaya Mojokerto. Angkutan umum Pemadu Moda Strat dari Terminal Kertajaya Mojokerto menuju Bandara Juanda kira-kira membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan dan baru mulai beroperasi tanggal 21 Maret 2020 mendatang.

Kepala Seksi Pengendalian dan Operasional UPT LLAJ Mojokerto Dishub Provinsi Jatim, Yoyok Kristyowahono mengungkapkan, pengguna transportasi umum dari Mojokerto dapat menggunakan angkutan Pemadu Moda untuk menuju Bandara Juanda. “Mereka pengguna jasa transportasi angkutan umum mungkin juga menghendaki ingin ada angkutan langsung ke Juanda,” ujar Yoyok.

Angkutan Pemadu Moda tersebut juga dapat dijadikan alternatif penumpang dari luar kota yang hendak bepergian dari Mojokerto ke Bandara Juanda. Dengan adanya angkutan umum itu diharapkan dapat menarik minat penumpang dari Kota Nganjuk, Kertosono, Jombang maupun Mojosari Mojokerto yang belum ada angkutan langsung ke Bandara Juanda. “Dengan adanya transportasi Pemadu Moda ini bisa lebih mempermudah dan menambah efisiensi waktu untuk ke Juanda oleh sebab itu DAMRI paling siap memberikan angkutannya,” tutupnya.

Dibangun Mulai April 2020, Bandara Kediri Bakal Diintegrasikan dengan Juanda

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) menargetkan Bandara Dhoho di Kediri menjadi bagian dari multi-airport system di wilayah Jawa Timur guna melayani pertumbuhan lalu lintas penumpang. Bahkan Bandara Kediri juga direncanakan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi gerbang alternatif untuk menuju Jatim selain Bandara Juanda Surabaya.

Sampai tahun 2019 lalu tercatat Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo telah melayani lebih dari 16,6 juta penumpang dengan trafik pesawat mencapai 129 ribu pergerakan dan kargo mencapai 88,4 juta kg. Pada 2018, jumlah penumpang sebanyak 21 juta penumpang dengan kapasitas 15 juta. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu kapasitas di Bandara Juanda semakin kurang memadai.

Langkah pengembangan maksimal pun hanya mampu meningkatkan kapasitas Bandara Juanda jadi 21 juta penumpang per tahun. “Ini akan semakin tidak memadai kalau pertumbuhan trafik semakin besar, perlu dipikirkan alternatif trafik. Jadi Bandara Kediri kami kembangkan sebagai penopang dalam multi airport system, pengaturan trafik kami kaji ke sana,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, Selasa (10/3), seperti dikutip dari Bisnis.

Kemudian untuk ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan Bandara Kediri rencananya akan dilakukan pada tanggal 15 April 2020 depan. Pembangunan bandara yang meliputi wilayah selatan Jawa Timur itu diperkirakan rampung dalam kurun waktu 2 tahun. Pengelolaan secara multi airport di Jatim sendiri kabarnya membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

“Secara paralel konsep bisnis dibicarakan dan pembangunan dimulai, bagaimana agar wilayah Jatim bisa berkembang lebih besar ke depan. Ini akan ciptakan ekuilibrium baru dalam pengelolaan kegiatan transportasi udara,” tuturnya.

Faik menjelaskan, Bandara Dhoho di Kediri rencananya dibangun di Desa Grogol, Kecamatan Grogol dan Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Adapun jarak Desa Grogol ke pusat Kota Kediri sekitar 13 km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Sedangkan jarak dari Bandara Juanda sekitar 120 km dengan waktu tempuh 1,5-2 jam perjalanan lewat jalan tol dan jarak dari Bandara Abdurrahman Saleh Malang sekitar 87 km dengan waktu tempuh perjalanan darat 3-4 jam.

Pada tahap awal, Bandara Dhoho dibangun seluas 13.558 meter persegi dari total luas lahan hampir 400 hektare dengan dimensi runway 2.400 meter x 45 meter untuk kapasitas 1,5 juta penumpang per tahun. “Untuk luasannya sampai 3.300 meter sehingga memang dimungkinkan didarati pesawat besar. Dan kemudian terminal juga akan sekitar 26.350 meter. Jadi dari sisi spesifikasi bandara dibutuhkan untuk pesawat berbadan besar,” ungkap Faik.