Jakarta – PT Angkasa Pura II (Persero) selaku BUMN pengelola bandara mencatat kerugian bersih yang diatribusikan pada pemilik entitas induk sebesar Rp2,43 triliun pada tahun buku 2020. Perolehan tersebut berkebalikan dari tahun 2019 di mana AP II berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp1,01 triliun.
PT Angkasa Pura II (Persero) – www.pinterpolitik.com
Hal itu rupanya ikut berdampak pada anjloknya nilai laba per saham menjadi minus Rp152,36 per saham dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp74,17 per saham. “Anjloknya laba AP II tidak terlepas dari penurunan pendapatan usaha yang cukup signifikan senilai 47,27% menjadi Rp5,84 triliun dari tahun sebelumnya Rp11,08 triliun,” demikian bunyi laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Angkasa Pura II.
Angkasa Pura II merinci, pendapatan aeronautika anjlok sebesar 62,97% menjadi Rp2,17 triliun dari tahun sebelumnya Rp5,76 triliun. Pendapatan non-aeronautika juga anjlok menjadi Rp3,67 triliun dari perolehan sebelumnya di angka Rp5,32 triliun.
BUMN pengelola bandara ini juga membukukan penurunan beban pegawai menjadi Rp1,68 triliun dari sebelumnya Rp2,23 triliun. Beban operasional bandar udara pun turun jadi Rp4,43 triliun dari angka sebelumnya Rp5,18 triliun. Di sisi lain, pada pos beban keuangan terjadi peningkatan dari sebelumnya sebesar Rp795,85 miliar menjadi Rp1,13 triliun.
Hingga tanggal 31 Desember 2020, total aset Angkasa Pura II mengalami kenaikan jadi Rp44,43 triliun dari posisi 31 Desember 2019 sebesar Rp43,99 triliun. Nilai tersebut terdiri dari liabilitas yang mengalami kenaikan menjadi Rp23,11 triliun dari posisi Desember 2019 senilai Rp19,55 triliun. Sementara itu, ekuitas perseroan turun menjadi Rp21,31 triliun dari angka sebelumnya Rp24,44 triliun.
AP II sendiri berupaya untuk mengembalikan kondisi bisnisnya lewat 3 program pemulihan pada 2021. “Tiga program tersebut adalah Leapfrogging The Corporation, Lean Operation dan Leading Digital,” jelas Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin beberapa waktu lalu, seperti dilansir Bisnis.
Awaluddin mengungkapkan, program-program tersebut akan menciptakan bisnis baru dan membangun ekosistem yang lebih besar, memungkinkan optimalisasi sumber daya di bandara, serta memberikan digital experience untuk seluruh stakeholder.