{"id":929,"date":"2015-10-12T11:01:44","date_gmt":"2015-10-12T04:01:44","guid":{"rendered":"http:\/\/bandarasoekarnohatta.com\/?p=929"},"modified":"2015-10-12T11:01:53","modified_gmt":"2015-10-12T04:01:53","slug":"nama-nama-pesawat-buatan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/nama-nama-pesawat-buatan-indonesia.info","title":{"rendered":"Nama \u2013 nama Pesawat Buatan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Banyak yang tak menyangka bahwa Indonesia mampu menciptakan sebuah pesawat pesawat terbang dengan kualitas standar internasional. Tak hanya satu, Indonesia bahkan telah membuat beberapa pesawat terbang baik untuk kebutuhan sipil maupun militer.\u00a0\u00a0<a href=\"http:\/\/bandarasoekarnohatta.com\/nama-nama-pesawat-buatan-indonesia.info\/pesawat-nc212#main\" rel=\"attachment wp-att-930\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-930\" src=\"http:\/\/bandarasoekarnohatta.com\/wp-content\/uploads\/pesawat-nc212.jpg\" alt=\"pesawat-nc212\" width=\"680\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-content\/uploads\/pesawat-nc212.jpg 680w, https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-content\/uploads\/pesawat-nc212-300x132.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Berikut ini adalah beberapa pesawat buatan Indonesia yang secara kualitas bisa disejajarkan dengan produk negara-negara maju.<\/p>\n<h3><strong>N-2130<\/strong><\/h3>\n<p>N-2130 merupakan salah satu pesawat terbang buatan Indonesia yang dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (sekarang PT Dirgantara Indonesia) di pertengahan dekade 1990-an, tepat di masa kejayaan IPTN. Sayangnya, pengembangan pesawat ini terkendala oleh krisis moneter yang merebak pada tahun 1998.<\/p>\n<h3><strong>N-250<\/strong><\/h3>\n<p>Pesawat selanjutnya adalah N-250 yang sempat mengikuti <em>Paris Air Show<\/em> di Le Bourget Perancis. N-250 merupakan pesawat pertama di kelasnya yang menggunakan teknologi <em>fly by wire<\/em>.\u00a0Pesawat yang dirancang dapat mengangkut hingga 50 orang ini kemudian diberi nama \u2018gatotkoco\u2019 (Gatotkaca).<\/p>\n<h3><strong>CN-235<\/strong><\/h3>\n<p>CN-235 adalah pesawat hasil kerjasama CASA di Spanyol dan IPTN.\u00a0CN-235 merupakan sebuah pesawat angkut turboprop kelas menengah yang bermesin ganda.\u00a0Versi militer dari CN 235 cukup diminati oleh pasar luar negeri, dan diekspor ke \u00a0berbagai negara seperti Afrika Selatan,\u00a0Amerika Serikat,\u00a0Uni Emirat Arab, dan\u00a0Arab Saudi.<\/p>\n<h3><strong>N-219<\/strong><\/h3>\n<p>Pesawat N-219 adalah produk PT Dirgantara Indonesia yang cukup bisa diandalkan. Pesawat ini pada pembuatannya memang dirancang untuk kondisi geografis Indonesia. N-219 memiliki keistimewaan, yakni dapat mendarat di landasan yang pendek di wilayah terpencil dengan lahan terbatas.<\/p>\n<h3><strong>NC-212<\/strong><\/h3>\n<p>NC-212 adalah sebuah pesawat yang diproduksi oleh Indonesia di bawah lisensi oleh PT. Dirgantara Indonesia.\u00a0Pesawat ini dilengkapi fitur <em>Weather Radar<\/em> (Radar Cuaca) dan <em>Global Positioning System<\/em> (GPS). Penggunaan NC-212 umumnya digunakan pada operasional hujan buatan.<\/p>\n<p>Tak hanya pesawat biasa, Indonesia juga telah berhasil menciptakan beberapa jenis pesawat tanpa awak alias <em>drone. <\/em>Penggunaannya yang hanya terbatas si kalangan militer membuat pesawat-pesawat ini kurang terekspos kehadirannya.<\/p>\n<h3><strong>Puna Pelatuk<\/strong><\/h3>\n<p>Puna Pelatuk merupakan pesawat tanpa awak yang memiliki kecepatan terbang mencapai 127, 8 km\/jam. Pesawat ini menggunakan konfigurasi desain V-tail inverted high wing dan mampu terbang di ketinggian 8. 000 kaki. Puna Pelatuk juga mampu membawa beban seberat 120 kg, serta bertahan di udara selama 4 jam.<\/p>\n<h3><strong>Lapan Surveillance Unmanned (LSU)<\/strong><\/h3>\n<p>Lapan Surveillance Unmanned merupakan produk hasil garapan dariLembaga antariksa &amp; Penerbangan Nasional (LAPAN). Bbeerapa tipe LSU yang sudah berhasil dibuat adalah Lapan Surveillance UAV-01X(X-periment), Lapan Surveillance LSU 02, dan Lapan Surveillance lsu 03. Setelahnya, LAPAN juga membuat Surveillance UAV-01X, Surveillance UAV 02, dan Surveillance UAV 03 yang menjadi drone berukuran paling besar.<\/p>\n<h3><strong>UAV Autopilot SuperDrone<\/strong><\/h3>\n<p>UAV Autopilot SuperDrone dikembangkan oleh TNI AD yang bekerjasama dengan Universitas Surya. Pesawat berbahan fiber ini mampu terbang selama 6-8 jam dan dilengkapi dengan kamera pemantau panas.<\/p>\n<h3><strong>Puna Wulung <\/strong><\/h3>\n<p>Drone besutan BPPT ini diklaim mampu terbang dengan kecepatan mencapai 111 km\/jam dan juga memiliki ketahanan terbang di udara selama 4 jam. Pesawat ini juga dapat dimanfaatkan dalam operasi rekayasa hujan atau sebar benih. Puna Wulung mampu terbang di ketinggian 8.000 kaki dengan jarak maksimal 120 km, serta membawa beban hingga 120 kg.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang tak menyangka bahwa Indonesia mampu menciptakan sebuah pesawat pesawat terbang dengan kualitas standar internasional. Tak hanya satu, Indonesia bahkan telah membuat beberapa pesawat terbang baik untuk kebutuhan sipil maupun militer.\u00a0\u00a0 Berikut ini adalah beberapa pesawat buatan Indonesia yang secara kualitas bisa disejajarkan dengan produk negara-negara maju. N-2130 N-2130 merupakan salah satu pesawat terbang&#8230; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false},"version":2}},"categories":[59],"tags":[241,331,122,223,332,95],"class_list":["post-929","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-administratif","tag-buatan","tag-dirgantara","tag-indonesia","tag-internasional","tag-militer","tag-pesawat"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=929"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":932,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/929\/revisions\/932"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/juandaairport.com\/soekarnohatta\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}