
SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, meminta pihak Bandara Internasional Juanda untuk melakukan langkah antisipatif secara terus-menerus melalui pengetatan di area tertentu, terutama di pintu masuk kedatangan, untuk mencegah masuknya virus Covid-19 varian AY.4.2. Pasalnya, varian terbaru itu, yang juga disebut sebagai Delta Plus, sudah terdeteksi di Malaysia.
“Kami terus memantau dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat soal varian baru Covid-19 ini,” ujar Emil seperti dilansir dari Suarasurabaya.net. “Nantinya, pintu masuk ke Jawa Timur, baik itu dari pekerja migran maupun wisatawan asing, harus melalui screening Bandara Juanda dan proses karantina. Bandara Juanda harus menjadi benteng untuk mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19.”
Ia mengakui jika pencegahan varian baru ini memang atensi dari pemerintah pusat, termasuk proses karantinanya. Dikatakan Emil, ada karantina mandiri dan ada pula karantina yang difasilitasi. Di Surabaya sendiri, ia menegaskan sudah tersedia tempat karantina apabila ditemukan hasil tes PCR oleh tenaga kesehatan. “Tinggal mengidentifikasi varian baru itu dan ini akan kita lakukan terhadap mereka yang datang melalui Bandara Juanda,” pungkas Emil.
Seperti dilansir dari Kompas, varian terbaru virus corona, yakni Delta Plus, kabarnya sudah terdeteksi di Malaysia. Hal itu disampaikan sendiri oleh pemerintah Malaysia melalui akun Twitter resmi Kementerian Kesehatan Malaysia. Hingga detik ini, ada dua kasus infeksi Delta Plus yang terkonfirmasi ditemukan di Negeri Jiran, yang dialami dua pelajar yang baru saja pulang dari Inggris.
Virus corona Delta Plus adalah hasil mutasi dari varian Delta yang awalnya terdeteksi di Inggris dan masuk dalam daftar variant of concern WHO pada Mei 2021 lalu. Namun, dilansir dari BBC, sub-varian Delta AY.4.2 atau Delta Plus mulai ditemukan sejak Juli 2021 dan kini jumlah infeksinya semakin mendominasi. Di Inggris, kasus infeksi Delta AY.4.2 sempat mendominasi, bahkan lebih banyak dari jumlah infeksi yang disebabkan oleh Covid-19 varian Delta.
Diberitakan Medical News Today, Direktur University College London (UCL) Genetics Institute, Prof. Francois Balloux mengatakan, Covid-19 sub-varian Delta Plus memiliki kemungkinan 10 persen lebih mudah menular daripada Covid-19 varian Delta. WHO sendiri menyebutkan varian itu telah tersebar di setidaknya 42 negara di dunia, termasuk Inggris, Israel, Amerika Serikat, Rusia, dan India.
Leave a Reply