
SURABAYA/KUALA LUMPUR – Meski sudah dilayani di Bandara Internasional Juanda, tetapi masyarakat umum masih belum bisa melakukan penerbangan dari Surabaya menuju Kuala Lumpur atau sebaliknya. Pasalnya, rute penerbangan tersebut saat ini masih dikhususkan untuk melayani penerbangan carter pekerja migran Indonesia (PMI) dengan izin KBRI Kuala Lumpur dan belum melayani penerbangan reguler untuk umum.
Seperti dilansir dari Antara, Presidium Aliansi Organisasi Masyarakat Indonesia (AOMI) di Malaysia, Lukmanul Hakim, menjelaskan bahwa penerbangan Kuala Lumpur-Surabaya saat ini masih carter dan harus mendapatkan izin kedutaan. Penerbangan pun dibatasi hanya tiga kali dalam seminggu, yakni Senin, Rabu, dan Jumat, dengan maksimal 150 penumpang.
Ketua Garansi Malaysia tersebut saat ini tengah menjalani karantina terakhir di Asrama Haji Surabaya setelah mendampingi pemulangan 128 pekerja migran dari Kuala Lumpur ke Kota Pahlawan dengan pesawat Malaysia Airlines MH871 yang mendarat di Bandara Juanda pada tanggal 22 Januari 2022 lalu. Ada 128 pekerja migran yang dia dampingi untuk pulang ke Tanah Air, dengan dua orang meninggal dunia dan empat orang dirawat di rumah sakit.
“Tiga orang dirawat di Rumah Sakit Haji Surabaya karena stroke dan kecelakaan kerja, sedangkan satu orang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya karena positif Covid-19,” terang alumni Pondok Pesantren Gontor Ponorogo tersebut. “Sementara, peserta yang menjalani karantina terjamin makanannya. Setiap dua hari, tim medis datang cek suhu badan dan satu kamar hanya diisi dua orang.”
Seperti diketahui, Bandara Juanda sudah mulai menerima kedatangan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN), termasuk PMI, mulai tanggal 22 Januari 2022 kemarin. Penerbangan perdana membawa 129 orang PMI dari Malaysia yang diangkut maskapai Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH871. Awalnya, pelabuhan udara tersebut direncanakan menerima kedatangan PMI pada 26 Januari 2022.
“Kami sudah cek lapangan, mulai dari airport dan tempat-tempat karantina. Ada 33 hotel disiapkan (untuk tempat karantina), lalu ada asrama haji, ada tempat Badan Diklat Kemenag, juga LPMP, kita sudah tinjau masing-masing unit untuk karantinanya,” papar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. “Kami sudah koordinasi agar tempat-tempat isolasi terpusat (isoter) kembali diaktivasi, termasuk dengan nakes dan segala alatnya. Jadi, misalnya jika ada lonjakan Covid-19 seperti tahun lalu kita sudah siap.”
Leave a Reply