
SURABAYA – Bandara Internasional Juanda memang telah resmi melayani tes GeNose C19 sebagai syarat perjalanan mulai tanggal 1 April 2021 lalu dan tetap diterapkan pada bulan Ramadan. Namun, sebagian calon penumpang mengeluhkan bahwa layanan tersebut tidak tersedia untuk jadwal penerbangan pagi, berbeda dengan rapid test antigen.
Seperti diberitakan Jawa Pos, buka awal bulan ini, layanan GeNose ramai dipilih calon penumpang pesawat. Selain lebih cepat dalam penentuan hasil uji, biaya tes dengan meniup kantong udara tersebut lebih terjangkau jika dibandingkan dengan rapid test antigen. Namun, mereka yang jadwal keberangkatannya pagi tak bisa menggunakan layanan tersebut secara langsung. Sebab, layanan GeNose baru dibuka pukul 11.00 WIB, sedangkan layanan rapid test antigen sudah buka pukul 07.00 WIB.
“Perbedaan jam buka pilihan dua tes tersebut seharusnya tidak boleh terjadi, apalagi jika dua jenis tes itu sudah ditawarkan otoritas penerbangan,” tandas Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jatim, Said Sutomo. “Jangan sampai ada penggiringan untuk memilih salah satu jenis tes, misalnya antigen.”
Said menambahkan, hak konsumen adalah hak memilih. Mereka juga punya hak untuk didengar pendapat dan keluhannya. Jika dua pilihan tes itu disediakan, seharusnya jam bukanya sama biar konsumen sendiri yang memilih di antara keduanya, bukannya digiring. “Bahkan, adanya dua tes itu sebenarnya bisa dipilih sebagai second opinion oleh calon penumpang,” katanya.
Sementara itu, Brand Manager PT Angkasa Pura Support cabang Surabaya, Wukirjo, membantah adanya penggiringan penumpang untuk memilih rapid test antigen. Menurut keterangannya, pembukaan GeNose pada siang hari terkait dengan teknis dan sara, misalnya kantong GeNose yang saat ini jumlahnya di Bandara Juanda masih cukup terbatas.
“Produsen GeNose baru bisa mengirim sekitar 700 kantong untuk kuota per hari. Sementara itu, jumlah penumpang harian di Bandara Juanda untuk keberangkatan mencapai tujuh ribu orang,” jelas Wukirjo. “Sejak awal, memang produsen GeNose baru bisa mencukupi kebutuhan 20 persen dari jumlah penerbangan. Namun, kuotanya tak segitu. Kami menyadari karena juga dibagi ke bandara-bandara lain.”
Leave a Reply