Penerbangan China Ditutup, Maskapai Mulai Cari Alternatif Pemasukan dari Rute Lain

Bandara Internasional Juanda Surabaya - id.wikipedia.org

Jakarta – Sejak merebaknya virus corona dan berdampak pada ditutupnya akses penerbangan dari dan ke China, pola penerbangan sejumlah maskapai pun turut mengalami perubahan. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Citilink pun sudah menghentikan jadwal penerbangan ke China dari 3 Februari 2020 lalu.

Maskapai Garuda Indonesia telah menghentikan penerbangan dari dan menuju Beijing, Shanghai, Guangzhou, Zhengzhou dan Xi’an. Garuda Indonesia biasanya melayani 30 frekuensi penerbangan setiap minggunya ke China. Sementara itu, Citilink justru menutup penerbangan ke China mulai 1 Februari 2020. Citilink setidaknya mempunyai 1 penerbangan reguler dengan rute Denpasar-Kunming, serta 5 penerbangan charter rute Manado-Guiyang, Padang-Kunming, Denpasar-Wenzhou, Denpasar-Guiyang, dan Solo-Kunming.

Sejak dihentikannya penerbangan dari dan ke China, maskapai Lion Air Group dan Garuda Indonesia Group pun kini mulai berpikir pengganti rute tersebut. Menurut Managing Director Lion Air Group Daniel Putut, pihaknya akan melakukan evaluasi dan pembahasan dengan manajemen internal terkait optimalisasi rotasi rute penerbangan. Rute China yang dibatalkan pun perlu diganti supaya utilisasi pesawat tetap terjaga. “(Rute) dalam negeri saja masih banyak kan. Kami baru mau meeting hitung rotasi (penerbangan) mau dibawa ke mana,” kata Daniel, Rabu (5/2), seperti dilansir Bisnis.

Daniel menilai, pembukaan atau penambahan frekuensi penerbangan di rute domestik dapat menjadi opsi yang dipertimbangkan. Akan tetapi, maskapai juga tak ingin gegabah dan perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh untuk rute lainnya. Setidaknya ada 30 penerbangan per pekan ke China yang harus dibatalkan dan bisa dipastikan berpengaruh terhadap kinerja operasional atau keuangan maskapai.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Irfan Setiaputra mengaku akan membuka rute baru dan rute tambahan. Akan tetapi, rencana itu membutuhkan kajian matang, pasalnya rute yang dibuka juga harus memenuhi permintaan penumpang untuk jangka panjang. “Jadi pesawat kan banyak yang grounded. Selalu pilihannya ada dua, kita nambah rute misalnya ke Surabaya atau [buka] ke area-area baru [ke negara lain],” paparnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*