Jika Tanpa Subsidi, Tarif Kereta Bandara Soeta Bakal Lebih dari Rp 100 Ribuan

Jakarta , Tangerang, Banten diperkirakan akan dipatok lebih mahal dibanding tarif KA Kualanamu Medan yang hanya Rp 100 ribu per . Ketika menandatangani MoU dengan 10 bank untuk pembayaran non-tunai KA Soetta, Direktur Utama PT Railink, Heru Kuswanto mengatakan jika tingginya biaya KA Soetta disebabkan karena beberapa hal.

Direktur Utama PT Railink, Heru Kuswanto - www.kompasiana.com

Direktur Utama PT Railink, Heru Kuswanto – www.kompasiana.com

“Kalau saya sendiri berpikir semakin rendah semakin kompetitif, kami ingin competitiveness (daya saing) itu, tapi terkendala penghitungan tarif mau enggak mau kembali ke logika berhitung tadi. Kami inginnya semua murah, tanah murah, sarana murah, tapi itu di luar kemampuan operator,” ujar Heru. Penetapan harga dipengaruhi oleh jarak KA yang lebih jauh, biaya pembebasan tanah, dan sarana yang lebih mahal.

Heru sendiri mengaku jika pihak Railink masih akan mengkaji besaran tarif yang akan diberlakukan pada saat KA Bandara Soetta mulai beroperasi Juli 2017 mendatang. “Kami juga ingin laku keras, enggak mungkin nongkrong di angka tinggi. Nanti kita evaluasi setiap bulannya untuk melihat titik temu terbaik di angka berapa,” jelas Heru.

Selain itu Railink juga tak akan bermain tarif ketika jam sibuk lantaran tak sesuai karakter KA bandara yang merupakan perpaduan kereta komuter dengan KA jarak jauh. “Kami tidak bermain di peak hours karena itu efektif kalau diberlakukan untuk perjalanan jarak jauh, seperti KA jarak jauh dan ,” papar Heru.

Heru menjelaskan jika tarif kereta api Bandara Soetta bisa lebih murah jika memperoleh bantuan subsidi dari pemerintah lewat skema kewajiban pelayanan publik (PSO). “Yang paling dimungkinkan lewat PSO. Apabila pemerintah hadir, bisa lebih murah,” ungkapnya.

KA Bandara Soetta dalam sehari dapat menampung sekitar 33.000 penumpang dengan total 124 perjalanan dan 10 rangkaian kereta dengan tiap rangkaian terdiri dari 6 gerbong kereta. Akan tetapi saat beroperasi perdana bulan Juli mendatang, Railink baru mengoperasikan 4 rangkaian KA atau 80 perjalanan yang akan berangkat dari Stasiun Sudirman Baru karena masih terkendala oleh pembangunan jalur dwi ganda (double double track) Stasiun Manggarai.

“Atau sekitar 76 persen dari 33 ribu penumpang sehari untuk tahap awal ini dan itu kita menghitungnya dengan asumsi sekitar 50 juta penumpang pesawat setahun, sekarang sudah 70 juta penumpang setahun,” tuturnya.

Jadwal operasional KA Bandara Soetta nantinya juga akan disesuaikan dengan jadwal penerbangan, baik keberangkatan atau kepulangan dengan frekuensi tiap 15 menit sekali. “Kalau penerbangan paling pagi itu pukul 05.00, maka kami akan atur mulai 03.50 sudah berangkat, karena di Kualanamu juga begitu, bahkan kami geser lebih pagi karena Garuda Indonesia, AirAsia dan Citilink berubah jam keberangkatan paling awalnya,” kata Heru.

Direktur Komersial PT Railink, Poerwanto Handry Nugroho menuturkan jika tarif KA Bandara Soetta akan dipatok sekitar Rp 100.000 – Rp 150.000. “Seharusnya lebih dari Rp 100.000 karena dari segi infrastrukturnya juga lebih mahal,” jelasnya.