Angkasa Pura I Merugi Rp1,16 Triliun Selama Semester I 2020

Direktur Utama PT AP I, Faik Fahmi - www.liputan6.com

Jakarta – PT Angkasa Pura I (Persero) selaku BUMN pengelola 15 bandara di Indonesia, termasuk Bandara Internasional Juanda, Surabaya rupanya mencatatkan kerugian sepanjang semester I 2020. Kinerja AP I terhambat lantaran bisnis kebandaraan tak beroperasi seperti biasa akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang melanda Indonesia.

Selama semester I 2020, AP I membukukan laporan keuangan negatif, yakni rugi sebesar Rp1,16 triliun. Sedangkan pada semester I 2019, perusahaan milik pemerintah ini mencatatkan laba bersih senilai Rp719,27 miliar.

Kemudian pendapatan usaha, baik di sektor aeronautika maupun non-aeronautika turun dari angkaRp3,98 triliun pada semester I 2019 menjadi Rp2,21 triliun pada semester I 2020. Berdasarkan data laporan keuangan Angkasa Pura I yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), beban usaha juga mengalami penurunan sebesar 3,2 persen menjadi Rp2,73 triliun. 

Akibat anjloknya pendapatan, arus kas perseroan juga anjlok cukup dalam, yaitu dari Rp3,26 triliun di semester I 2019 menjadi Rp1,79 triliun di semester I 2020 ini. Meski demikian, pada bulan Juli 2020 setelah pemerintah mulai melonggarkan aturan bepergian, trafik penumpang di bandara-bandara AP I mencatatkan kenaikan sebesar 110% dibanding Juni 2020.

Pada Juli 2020 trafik penumpang di 15 bandara AP I mencapai 1.363.912 orang. Jauh lebih tinggi dibanding bulan Juni 2020 sebelumnya yang hanya 648.567 orang. Trafik pesawat pun meningkat, di mana Juli 2020 lalu mencapai 21.954 pergerakan, tumbuh 57,4 persen dibandingkan trafik pesawat pada Juni 2020 yang hanya 13.942 pergerakan.

“Begitu juga dengan trafik kargo pada Juli yang tumbuh 19,1 persen dari 30.558.928 kilogram pada Juni, menjadi 36.407.584 kilogram pada Juli,” kata Direktur Utama PT AP I, Faik Fahmi beberapa waktu lalu, seperti dilansir Tribunnews.

Peningkatan trafik yang terjadi selama beberapa bulan terakhir menurut Faik karena adanya penerapan masa adaptasi kebiasaan baru atau new normal yang semakin meningkatkan keyakinan dan optimisme bahwa sektor aviasi akan kembali bangkit. “Maka dari itu untuk mempercepat proses bangkit sektor penerbangan, kita harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan udara,” tuturnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*