Kembangkan Tujuh Bandara, Angkasa Pura I Siapkan Rp10,5 Triliun

Faik Fahmi, Direktur Utama AP I - mediaindonesia.com

JAKARTA – PT Angkasa Pura I sepanjang tahun 2020 ini setidaknya akan mengembangkan tujuh bandara, yakni Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Bandara El Tari Kupang, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Pattimura Ambon, Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Lombok, dan Bandara Sentani di Jayapura. Untuk tujuan tersebut, perusahaan sudah menyiapkan dana pengembangan sebesar Rp10,5 triliun. 

“Jadi, target kami pada 2021 adalah seluruh kapasitas bandara yang kami kelola sudah bagus dan memadai ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan konektivitas bandara kita,” jelas Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi, dilansir Bisnis. “Untuk meningkatkan daya saing, bandara yang kami kelola tidak hanya memiliki kapasitas yang cukup secara fisik, tetapi juga harus ada peningkatan dari sisi kompetensi karyawannya.”

Selain itu, dalam pengembangan bisnis penerbangan, juga memerlukan ekosistem yang terbangun dengan baik, tidak hanya fasilitas yang sudah disiapkan di bandara, tetapi juga dari sisi aksesibilitas. Misalnya, Yogyakarta International Airport di Kulonprogo, yang akan dioperasionalkan pada 29 Maret 2020, akan mengintegrasikan angkutan moda transportasi terpadu, yakni antara Damri, kereta api, hingga taksi swasta supaya terbangun akses yang baik dan masih banyak opsi yang disiapkan.

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I berencana untuk belajar dari Incheon International Airport Corporation (IIAC) dalam mengembangkan akses pendukung transportasi dari dan menuju bandar udara. Bandara yang berada di Korea Selatan ini kabarnya akan dijadikan acuan oleh perusahaan dalam membangun akses transportasi darat.

Ia menambahkan, untuk alokasi pendanaan, memang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp17,5 triliun. Untuk sumber pendanaannya, Faik menyebut, berasal dari pendanaan internal perusahaan, obligasi, dan pinjaman kredit (sindikasi). “Dana pengembangan memang harus mengalami penyesuaian karena pembiayaan tak lagi seutuhnya berasal dari APBN,” sambung Faik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*