Jakarta – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan mengimbau berbagai pihak untuk lebih waspada terhadap penerbangan dari dan ke Yogyakarta, sehubungan dengan adanya erupsi Gunung Merapi. Di samping itu, seluruh jajaran dan stakeholder penerbangan pun diminta memantau penerbangan yang kemungkinan terdampak oleh meletusnya Gunung Merapi.

Imbauan tersebut disampaikan setelah erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta dan juga bencana gempa bumi di Bantul pada Senin (14/10) lalu. Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti menjelaskan bahwa pemantauan intensif dilakukan guna mengutamakan keselamatan, keamanan, dan juga kenyamanan calon penumpang. “Pemantauan dilakukan untuk mendeteksi dini letusan dan antisipasi perkembangan pengaruh sebaran abu vulkanik dari gunung api yang mengalami erupsi,” jelas Polana di Jakarta, Selasa (15/10), seperti dilansir Suara.

Sementara itu, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya, Nafhan Syahroni menuturkan bahwa erupsi Gunung Merapi dan gempa bumi di Bantul tak mempengaruhi penerbangan di Bandara Internasional Adisutjipto dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Gunung Merapi mengalami letusan dengan kolom sekitar 3.000 meter dari puncak atau sekitar 5.976 mdpl pada Senin (14/10) sekitar pukul 16.31 WIB. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani, letusan tersebut juga masih belum berdampak pada penerbangan pesawat, karena tinggi kolomnya tak mencapai 6.000 meter.

“Penerbangan masih aman. Kemarin kita sempat zona warna orange untuk kesiapsiagaan karena tingginya sudah mendekati 6.000-an meter, dan kebetulan ini arahnya ke barat daya di daerah Magelang, Jadi di bandara tidak berpengaruh,” ujarnya.

Kasbani menuturkan bahwa saat ini kondisi Gunung Merapi masih terjadi erupsi efusif, tetapi abu yang dikeluarkan tak terlalu banyak. “Saat ini sudah tidak banyak abu ya, karena erupsi yang membentuk awan panas itu hanya sekali kemarin,” bebernya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida menambahkan, letusan Gunung Merapi pada Senin lalu dipicu oleh akumulasi gas vulkanik yang terlepas secara tiba-tiba. “Letusan kemarin itu tergolong kecil, dan tidak ada peningkatan aktivitas yang signifikan, sehingga statusnya tetap sama yaitu Waspada (level II),” jelasnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *