SURABAYA – Terhitung sejak Selasa (10/9) kemarin, maskapai Citilink Indonesia terpaksa membatalkan penerbangan rute Surabaya-Palangkaraya-Surabaya yang menghubungkan Bandara Internasional Juanda dengan Bandara Tjilik Riwut. Pembatalan ini dilakukan selama tiga hari, hingga Kamis (12/9) ini karena alasan komersial.

Dilansir dari Infopublik.id, pembatalan penerbangan dengan nomor QG-450/451 ini berlaku pada 10, 11, dan 12 September 2019. Kabar pembatalan juga telah disampaikan ke pihak PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya. “Benar, operasional mereka dibatalkan, tetapi hanya pada tanggal tersebut,” ujar Kepala PT Angkasa Pura II Cabang Bandara Tjilik Riwut.

Berdasarkan surat pemberitaan yang dilayangkan pihak Citilink ke PT Angkasa Pura II, diketahui jika alasan pembatalan penerbangan tersebut karena alasan komersial. Siswanto sendiri menegaskan setelah tanggal tersebut, pihak Citilink akan melakukan penerbangan secara normal. “Biasanya terbang lagi,” tulisnya singkat dalam pesan WhatsApp.

Di sisi lain, kabut asap yang menyelimuti Kota Palangkaraya dan sekitarnya membuat PT Angkasa Pura II untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan penerbangan. Siswanto sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan memantau kondisi setiap saat dan mengambil langkah dan pertimbangan jika kabut asap terjadi kian tebal, dengan mengalihkan penerbangan seperti yang dilakukan kepada pesawat Garuda Indonesia dan TransNusa beberapa hari belakang.

“Jarak pandang yang normal untuk melakukan pendaratan pesawat adalah di atas 800 meter. Sehingga, jika kurang dari itu, maka perlu mengambil langkah untuk pertimbangan keselamatan,” tutur Siswanto. “Karena kondisi alam dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangkaraya dan sebagian besar wilayah di Kalteng, maka kami lebih prioritaskan keselamatan penerbangan.”

Bukan hanya itu saja, pihak Angkasa Pura II juga terus melakukan komunikasi intens dengan pemerintah daerah setempat untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan pemadaman di lokasi kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, juga kesiapan petugas teknis dalam memberikan dukungan penyediaan air atau water tank dan koordinasi operasional penerbangan pesawat.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *