PT Angkasa Pura I Baru Serap 40% Belanja Modal dari Alokasi Rp 17,5 Triliun

Jakarta – PT Angkasa Pura (AP) I mengumumkan bahwa angka belanja modal sejauh ini baru mencapai 30-40% atau sekitar Rp 7 triliun dari total alokasi investasi tahun ini sebesar Rp 17,5 triliun. BUMN pengelola bandar udara ini memiliki target untuk menyerap seluruh alokasi belanja modal pada akhir tahun 2019 ini.

Direktur Utama Angkasa Pura (AP) I Faik Fahmi menjelaskan bahwa pada beberapa tahun terakhir pihaknya tengah menggenjot pembangunan dan pengembangan bandara. “[Serapan] saat ini mungkin sekitar 30 persen-40 persen. Namun, saya memastikan tahun ini bisa terealisasi Rp 17,5 triliun secara efektif,” kata Faik, Senin (15/7), seperti dilansir Bisnis.

Lebih lanjut Faik menuturkan jika pihaknya kini tengah mengerjakan penyelesaian pembangunan sejumlah proyek seperti Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, finalisasi proyek Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin yang akan diresmikan Oktober 2019, persiapan pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, dan Terminal 1 Bandara Juanda di Surabaya.

Di samping itu, pihak AP I juga tengah menanti izin reklamasi terkait perpanjangan landasan pacu (runway) di Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali. Dari total kebutuhan sebanyak 47 hekatare, baru sekitar 35 hektare yang telah mendapatkan izin. Proyek revitalisasi Bandara Sam Ratulangi di Manado pun turut berkontribusi dalam penyerapan investasi. Rencananya, kapasitas Bandara Sam Ratulangi akan ditingkatkan hingga 2 kali lipat.

“Tahun ini saya ingin memastikan alokasi belanja modal Rp 17,5 triliun itu bisa terealisasi secara efektif. Ini juga menjadi salah satu KPI (Key Performance Indicator) kita di mana diharapkan terserap seluruhnya,” beber Faik.

AP I pun menggaet sejumlah instansi terkait seperti Badan Pengawasan Pembangunan dan Keuangan (BPKP). Hal ini dilakukan karena AP I tengah melaksanakan kegiatan investasi yang dalam 2 tahun terakhir ini memiliki nilai cukup besar, yaitu Rp 18,8 triliun pada 2018 dan Rp 17,5 triliun pada 2019.

“Dalam dua tahun terakhir ini investasi kita meningkat signifikan karena kalau yang lalu tidak lebih dari Rp 6 triliun dan realisasinya di bawah Rp 5 triliun. Salah satu evaluasi kita kenapa tidak cukup agresif adalah karena ada rasa ketakutan dalam proses kegiatan investasi terkait masalah hukum dan sebagainya. Karena itu kami ingin pembangunan dengan cepat tapi aman,” ucap Faik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*