Bandara Juanda Telah Terbangkan 492 Penumpang Selama Pembatasan Penerbangan

Pengawasan Penumpang Bandara Juanda - jatim.inews.id
Pengawasan Penumpang Bandara Juanda - jatim.inews.id

Sidoarjo – Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya menolak seorang calon penumpang yang hendak berangkat dari Bandara Internasional Juanda setelah hasil rapid test-nya dinyatakan reaktif Covid-19 pada Minggu (10/5).

Awalnya, calon penumpang itu harus diperiksa lantaran belum mempunyai surat keterangan hasil rapid test atau PCR sebagai salah satu syarat penumpang boleh naik pesawat. “Penumpang langsung kami minta untuk tes di klinik sekitar bandara,” kata Kepala KPP Kelas I Surabaya M. Budi Hidayat, Selasa (12/5), seperti dilansir Jawapos.

Sejak dibukanya layanan penerbangan terbatas di Bandara Internasional Juanda Surabaya pada Jumat (8/5) lalu, persyaratan naik angkutan udara diperketat sesuai dengan surat edaran (SE) gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. Tak hanya itu, kriteria penumpang pun dibatasi, yakni hanya mereka yang melaksanakan tugas kedinasan serta kepentingan umum, kesehatan, dan medis. Misalnya, pekerja migran Indonesia (PMI), kebutuhan repatriasi, dan beberapa kriteria lain yang diatur dalam kebijakan itu.

Penumpang yang masuk dalam kriteria itu harus menyertakan berkas administrasi yang lengkap, mulai dari surat tugas dari instansi, surat keterangan sehat, dan hasil rapid test atau PCR negatif. Nantinya seluruh dokumen itu akan diverifikasi oleh petugas yang berjaga di posko. “Kami harap seluruh penumpang yang penuhi kriteria mempersiapkan dulu,” ungkapnya.

Sejak dibukanya layanan penerbangan terbatas dari hari Jumat sampai Senin (11/5) lalu, sudah terdapat 492 penumpang di Bandara Juanda. Dari jumlah tersebut, hanya 1 calon penumpang yang dinyatakan reaktif rapid test. “Yang berangkutan langsung dirujuk RS Menur,” ungkap Kabid Kekarantinaan dan Surveilans Epidemiology KKP Kelas I Surabaya Budi Santosa. Namun setelah dirujuk dan diperiksa ulang, penumpang itu ternyata negatif Covid-19 dan sehari kemudian boleh terbang ke tempat tujuan.

Dari sekian maskapai, Batik Air diketahui menjadi salah satu maskapai yang melayani penerbangan di masa pembatasan ini. Namun, menurut data Kumparan, penerbangan yang dilakukan Batik Air seolah mengabaikan Permenhub 18/2020 terkait pembatasan daya angkut maksimal 50% dari kapasitas maksimal.

Beberapa penerbangan Batik Air yang datang dan keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (14/5) tercatat mengangkut penumpang lebih dari 130 orang. Namun, sampai saat ini Batik Air masih belum memberi konfirmasi terkait hal tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*