Efisiensi BUMN, Erick Thohir Berencana Gabungkan Angkasa Pura I dan II

Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) - economy.okezone.com
Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) - economy.okezone.com

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana untuk menggabungkan PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) menjadi satu perusahaan. Hal ini adalah upaya pemerintah dalam melakukan efisiensi di perusahaan milik negara. Erick menyampaikan rencananya tersebut usai rapat kerja dengan komisi VI DPR bersama Kementerian Keuangan pada Selasa (9/6).

“Nanti yang namanya Angkasa Pura akan digabungkan menjadi satu, di sana akan digabungkan juga dengan logistik-logistik udara yang ada keterkaitan,” kata Erick, seperti dilansir Industry.

Lebih lanjut Erick menjelaskan bahwa upaya penggabungan ini telah dilakukan oleh sejumlah negara di dunia, terutama di kawasan Timur Tengah seperti Emirates atau Qatar yang sudah menyinergikan logistik udara dan pelayanan di bandara kelolaannya. “Jadi ini bagian efisiensi yang terjadi seperti yang kita lihat banyaknya di negara-negara Timur Tengah seperti Emirates atau Qatar yang sudah menyinergikan logistik udara dan juga services daripada airport-nya,” bebernya.

Angkasa Pura sendiri adalah perusahaan pelat merah yang dipercaya untuk mengelola bandar udara di Indonesia. Hingga kini, AP I telah mengelola 13 bandara di Indonesia, di antaranya Bandara I Ngurah Rai, Bandara Juanda, Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Sams Sepinggan, Bandara Frans Kaisiepo, Bandara Adisutjipto, dan Bandara Internasional Lombok.

Sedangkan AP II mengelola 19 bandara di Indonesia, beberapa di antaranya Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdana Kusuma, Bandara Kualanamu, Bandara Supadio, Bandara Minangkabau, dan Bandara Sultan Syarif Kasim II.

Hingga kini, Kementerian BUMN sudah memangkas jumlah perusahaan milik pemerintah dari yang awalnya 142 perusahaan menjadi hanya 107 perusahaan. Setidaknya pihak Kementerian BUMN telah mengurangi 35 BUMN. “Restrukturisasi ini kami melakukan keputusan bersama Menteri Keuangan (Sri Mulyani). Dari 142 BUMN sekarang kami bisa mengategorikan BUMN jumlahnya 107 perusahaan,” jelas Erick.

Tak hanya jumlah BUMN, Erick pun sudah mengurangi klaster BUMN dari yang sebelumnya berjumlah 27 klaster menjadi hanya 12 klaster. Dengan adanya pembagian klaster tersebut, maka setiap wakil menteri ditugaskan untuk bertanggung jawab terhadap 6 klaster. “Alhamdulillah klaster dari 27 tinggal 12. Kluster ini dibentuk tadi value chain, supply chain, dan dilihat core bisnisnya,” tegas Erick.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*